Cari Blog Ini

Senin, 28 Mei 2018

CEBONG DUPER, Dikira Limbah Tinja Diolah Untuk Diminum. INI FAKTANYA !!!

Para Haters Anies - Sandi kembali melakukan pamer kebodohan yang sangat - sangat - sangat paripurna. Karena gagal mengerti soal pengolahan limbah, mereka malah beramai-ramai jadi pamer kebodohan.

Entah karena dalam pikiran mereka memang sudah ngebet ingin minum air hasil pengolahan limbah tinja (kotoran manusia) atau semata karena bodoh saja, mereka kira air limbah tinja itu diolah untuk diminum sehari-hari.

Berikut penjelasan soal tersebut oleh Ismail Fahmi.

Berita Inovasi Anak Bangsa Diubah Menjadi Noise

Sebelumnya Drone Emprit mengajak pemerintah untuk bisa menangkap sinyal dari berbagai bercakapan warganya yang terdengar seperti noise. Kali ini ada contoh yang kebalikannya. Sebuah inovasi anak bangsa, untuk memecahkan masalah akut di ibu kota, ditanggapi oleh buzzer pemerintah dengan cara yang menarik: mengubah sinyal (inovasi) menjadi noise (serangan).

PROBLEM

Setiap hari IPLT Duri Kosambi menampung 150 kubik limbah tinja. Yang mampu diolah hanya sebanyak 80 meter kubik per hari. Pengolahan ini harus dilakukan agar  kualitas air bekas domestik ini memenuhi syarat sebelum dibuang ke sungai.

INOVASI

Saat ini alat pengolahan limbah ada yang dijual seharga Rp 3 miliar dengan kapasitas 40 meter kubik dalam e-catalog.

Andrich, sebuah alat pengolah limbah karya Andri dan Chairunnas, dua putra dari Sumatera Barat, bisa bekerja lebih efisien dengan harga lebih murah.

"Punya kami kapasitasnya 80 meter kubik per hari, dua kali lipatnya, dengan harga setengahnya, sekitar Rp 1,5 miliar," ujar Andri. (Kompas)

Kualitas air hasil olahan sangat bagus, bahkan sampai bisa diminum kalau mau. "Bisa diminum" ini menunjukkan level kualitas air. Bukan berarti akan digunakan sebagai air minum. Namun kalau mau silahkan.

SOLUSI

"Target PD PAL Jaya dan PT MJH Lestari Internasional (Andrich) akan memasang 200 unit untuk 3 tahun ke depan. Betul, kita langsung konkret saja. 200 unit ini karya anak bangsa, perlu dibela. Saya terinspirasi bahwa kalau kita tidak bela, siapa lagi. Kalau bukan sekarang, kapan lagi," ujar Sandiaga.

"Saya berharap akan menghasilkan 50 meter kubik per hari untuk menyirami 9 hektar lahan hijau dan dua yang ada di sekitar wilayah sini. Mangga, timun suri, pepaya, tadi singkong juga bisa diairi di sini," kata Sandiaga. (Kompas)

RESPONSE WARGANET

Bagaimana warganet meresponse inovasi dan solusi dari problem akut pengolahan limbah di DKI Jakarta ini?

Drone Emprit memonitor kata kunci "tinja, jamban" dan memfilternya dengan "Dki, jakarta, sandiaga, pengolah, minum."

Dari grafik SNA tampak hanya ada 1 cluster besar yang membahas ini. Dari Most retweeted status, bisa dilihat bahwa mereka semua beranggapan kalau air hasil olahan ini nantinya untuk AIR MINUM WARGA DKI.

"Sabar sabar... Rumah DP 0 persen masih belum jadi. Sementara minum air tinja dulu ya..." -- Dennysiregar7

"Usul aja nih pak @sandiuno , apa tdk lebh baik disurvey dulu masyarakt mau gak minum air yg diproses dr tinja? Biar gak mubazir nanti mesin2 dah diinstall sementara masyarakt TDK mau , kecuali memang dr awal warga OKOC dengan ide ini. Mhn dipertimbangkan" -- dr_tompi

"warga jabar dapat bandara baru, warga DKI dapat air sulingan dari Tinja 🤣
#HaturNuhunJokowi" -- permadiaktivis

"Wadoohh...dalam waktu kedepan warga Dki akan bisa menikmati air minum dr hasil olahan Tinja.
Saya rasa ada baiknya sebagai uji coba alirkan saja kerumah" pendukung anda 58%, kami yg 42% ingin lihat hasilnya spt apa dan lebih pilih air mineral. 😂😂" -- embah72

"Innalilahi mau jadi apa Jakarta ini ya Alloh warganya mulai dikampanyekan minum air olahan TINJA...Bukannya Alloh menciptakan air tiada batas Merupakan Sunnatuloh yg turun ke tanah...@aniesbaswedan dan @sandiuno masih ingat antum?" -- AaJymi

"Air limbah tinja mau di olah menjadi air minum..
Seketika 1 DKI mulutnya pada bau Tokai..
Kayak mulut "orang2" yang duduk di senayan." -- Airin_NZ

Dan masih banyak lagi.

Anggapan ini berdasarkan dari headline berita yang diambil dari Kompas "DKI Kini Bisa Ubah Limbah Tinja Jadi Air Siap Minum dalam Setengah Jam." Jika hanya melihat judul2 yang dibuat media mainstream ini, memang mereka tidak salah.

Hanya satu orang di peta SNA itu yang berusaha meluruskan:
"Ini toh yg diributkan Kacungers..
Telan judul, lupa ngunyah paragraf terakhir ya Cung?
DKI Kini Bisa Ubah Limbah Tinja Jadi Air Siap Minum dalam Setengah Jam http://kom.ps/AFy3Tx " -- mbahUyok

Di dalam paragraph yang discreenshot, dijelaskan sebagai berikut:

"Saya berharap akan menghasilkan 50 meter kubik per hari untuk menyirami 9 hektar lahan hijau dan dua yang ada di sekitar wilayah sini. Mangga, timun suri, pepaya, tadi singkong juga bisa diairi di sini," kata Sandiaga. (Kompas)

Dirut PD PAL Jaya Subekti mengatakan air bersih tersebut bukan ditujukan menjadi air minum. Air tersebut menurutnya lebih ditekankan untuk penggunaan sehari-hari.

"Memang kalau air bersih, ini lah. Pokoknya dia bisa menjadi air bersih. Bukan air minum lah. Jadi memang air bersih yang bisa digunakan untuk utilitas. Untuk nyuci mobil gitu-gitu, gitu-gitu lah," jelas Subekti saat dihubungi, Jumat (25/5/2018). (Detik)

CLOSING: INOVASI MENJADI NOISE

Bagaimana mungkin sebuah headline berita tentang inovasi dan solusi atas masalah IPAL menjadi pembicaraan  warganet yang negatif sentimennya? Salah satunya karena mereka hanya membaca headline Kompas yang memang mengasosiasikan alat pengolah ini dengan air minum, dan mereka tidak membaca sampai detail paragraph di dalamnya.

Jika ini dilakukan oleh warganet biasa, tentu tidak terlalu masalah. Tapi dari peta SNA, tampak narasi negatif ini secara masif dan aktif dilakukan oleh sebuah cluster yang dikenal sebagai pendukung pemerintah, dengan tingkat interaksi yang tinggi.

Alih-alih mengubah noise menjadi sinyal, ini malah sebaliknya, mengubah sinyal menjadi noise.

Mendekati 2019, saya kira bukan hanya presiden yang harus punya prestasi baik dan dibangun citra baiknya. Namun para pendukungnya juga perlu menunjukkan kemampuan menjadi 'telinga' bagi pemerintah. Bukan sebaliknya malah menjadi 'buzzer' atau 'pembuat bising'.

Sekedar saran aja, mereka harus membangun citra positif, sehingga publik merasa tenang dan senang bahwa pendapat publik akan didengar oleh para pendukung ini, dan diteruskan kepada pemerintah.

Mereka perlu menggunakan pendekatan "kita", bukan "kami" - "kalian".

Cebong emang DuPer alias Dungu Permanen...

Sumber : Fakta Media

Jumat, 25 Mei 2018

PENDIDIKAN adalah PERANG MELAWAN KEDUNGUAN

Awal Mei kemarin, tepatnya hari Kamis tanggal 3, saya menghadiri acara wisuda dan tasyakuran siswa-siswi SMK Puspajati Buluspesantren. Kebetulan saya adalah Ketua Badan Pengelola SMK tersebut yang berada di bawah naungan LPP Untung Suropati.

Disamping mengelola sebuah SMK saya juga masih aktif memberikan kuliah di beberapa kampus, mengisi seminar SDM dan memberikan training manajemen di beberapa perusahaan. Menurut saya, pendidikan dan pelatihan adalah kunci keberhasilan dalam pembentukan karakter suatu bangsa.

Berbicara tentang pendidikan dan kecerdasan, saya teringat dan terinspirasi seorang tokoh pendiri bangsa bernama Haji Agus Salim. Beliau lahir dengan nama Mashudul Haq yang berarti "pembela kebenaran" di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, pada 8 Oktober 1884. Haji Agus Salim ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 27 Desember 1961 melalui Keputusan Presiden nomor 657 tahun 1961.

Disamping seorang diplomat ulung, pemikir dan penulis, Haji Agus Salim juga seorang jurnalis yang sejak tahun 1915 bekerja di Harian Neratja sebagai Redaktur II. Setelah itu diangkat menjadi Ketua Redaksi. Menikah dengan Zaenatun Nahar dan dikaruniai 8 orang anak.

Kegiatannya dalam bidang jurnalistik terus berlangsung hingga akhirnya menjadi Pemimpin Harian Hindia Baroe di Jakarta. Kemudian mendirikan Suratkabar Fadjar Asia . Dan selanjutnya sebagai Redaktur Harian Moestika di Yogyakarta dan membuka kantor Advies en Informatie Bureau Penerangan Oemoem (AIPO).

Dalam buku Seratus Tahun Haji Agus Salim terbitan Sinar Harapan, Jef Last, penulis berkebangsaan Belanda menceritakan satu fragmen kecerdasan dan kematangan seorang tokoh bangsa, Haji Agus Salim. Jef Last berkenalan dengan Haji Agus Salim ketika Agus Salim menemui tokoh SDAP PJ Troelstra di Belanda pada 1930.

Jef Last mengutip cerita Sutan Sjahrir kepadanya. "Kami sekelompok besar pemuda, bersama-sama mendatangi rapat di mana Pak Salim akan berpidato dengan maksud mengacaukan pertemuan itu. Pada waktu itu Pak Salim telah berjanggut kambing yang terkenal itu dan setiap kalimat yang diucapkan Pak Haji disahut oleh kami dengan mengembik yang dilakukan bersama-sama. Setelah ketiga kalinya kami menyahut dengan "me, me, me" (mbek), maka Pak Salim mengangkat tangannya seraya berkata.

"Tunggu sebentar. Bagi saya sungguh suatu hal yang sangat menyenangkan bahwa kambing-kambing pun telah mendatangi ruangan ini untuk mendengarkan pidato saya. Hanya sayang sekali bahwa mereka kurang mengerti bahasa manusia sehingga mereka menyela dengan cara yang kurang pantas. Jadi saya sarankan agar untuk sementara tinggalkan ruangan ini untuk sekadar makan rumput di lapangan. Sesudah pidato saya ini yang ditujukan kepada manusia selesai, mereka akan dipersilakan masuk kembali dan saya akan berpidato dalam bahasa kambing khusus untuk mereka. Karena di dalam agama Islam, bagi kambing pun ada amanatnya dan saya menguasai banyak bahasa."

"Kami tidak tinggalkan ruangan," kata Sjahrir. "Tetapi kami terima dengan muka merah gelak tawa dari hadirin lainnya," imbuhnya. Masih menurut Sjahrir, sesudah peristiwa itu para pemuda masih melawannya. "Tetapi tidak pernah lagi kami mencemoohkannya," ujar Sjahrir dikutip Jef Last.

Hari ini kita merindukan sosok bapak bangsa yang cerdas dan memiliki selera humor berkelas seperti Haji Agus Salim, Sjahrir, Mr. Soepomo, Abikusno, Kasman Singodimedjo, Bung Hatta dan tentu saja Bung Karno.

Perdebatan dan pergulatan politik saat ini telah bergeser dari tema ideologis dan substansial kepada pola pikir pragmatis yang dangkal. Para politisi negeri ini sibuk membahas bagaimana mempertahankan dan merebut kekuasaan. Mereka terjebak pada lobi dan negosiator untuk membentuk koalisi.

Sementara kalangan kelas menengah dan akar rumput saling berbalas caci maki dan saling mem-bully. Meski metafor yang berkembang sama-sama menggunakan nama binatang, seperti kodok, cebong, kampret, babi dan onta, namun beda kelas dan kualitas dengan jamannya Haji Agus Salim.

Dalam sebuah rapat Sarekat Islam (SI), Haji Agus Salim saling ejek dengan Musso, tokoh SI yang belakangan menjadi orang penting dalam Partai Komunis Indonesia. Saat itu, SI memang terbelah antara SI Putih dan SI Merah yang berhaluan pada faham-faham komunisme. Haji Agus Salim menjadi motor SI Putih, sementara Musso di SI Merah.

Pada awalnya Muso memulai ejekan itu ketika berada di podium. "Saudara saudara, orang yang berjanggut itu seperti apa?"
"Kambing!" jawab hadirin.

"Lalu, orang yang berkumis itu seperti apa ?"
"Kucing!"

Haji Agus Salim sadar sedang menjadi sasaran ejekan Musso. Haji Agus Salim memang memelihara jenggot dan kumis. Begitu gilirannya berpidato tiba, dia tak mau kalah.

"Saudara-saudara, orang yang tidak berkumis dan tidak berjanggut itu seperti apa?"

Hadirin berteriak riuh, "Anjing!"

Agus Salim tersenyum, puas, lalu melanjutkan pidatonya. Cerita ini dikutip dari Mengikuti jejak H Agus Salim dalam Tiga Zaman karangan Untung S, terbitan Rosda Jayaputra.

Dalam empat tahun terakhir ini memang kita disuguhkan kedunguan dan kebencian dalam berpolitik. Para pemimpin negeri ini mempertontonkan statemen-statemen bodoh dan mengecewakan. Pernyataan presiden dalam suatu persoalan, dan komentar para menteri juga anggota DPR seringkali blunder dan jadi bahan ejekan.

Sama saja dengan para oposisi. Mereka juga terjebak pada pembicaraan kosong, terkesan hanya mencari kesalahan. Para pengamat dan akademisi pun tidak mampu memberi warna pada perbincangan publik agar lebih berisi dan substantif.

Akhirnya perdebatan politik hanya dilihat sebagai tontonan saling serang dan bertahan, saling rebut dan sikut, dikemas dalam panggung entertainment, jadilah acara POLITAINMENT yang membosankan dan memuakkan. Hanya menguntungkan industri media, para pengusaha percetakan dan lembaga-lembaga survei.

Maka menurut saya, solusi atas kondisi ini adalah mengembalikan marwah politik dengan memperbaiki sistem pendidikan. Pendidikan yang membentuk karakter dan mengoptimalkan kecerdasan, bukan pendidikan yang hanya mencetak siswa menjadi pintar dan menguasai teknologi. Tapi pendidikan yang menghasilkan generasi berbudaya dan beretika, berkualitas dan berintegritas.

Ini adalah tugas dan tanggung jawab negara. Mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 bukanlah tujuan negara, namun tugas negara, tanggung jawab pemerintah. Tujuan negara adalah mewujudkan keadilan dan kemakmuran bagi rakyatnya.

Untuk itu, kita semua harus memulai berpolitik secara cerdas dan berkelas. Menghentikan perdebatan dengan cara kotor dan rendahan. Menjauhkan sifat dendam penuh kebencian. Mendorong pemerintah membenahi sistem pendidikan. Pendidikan yang mencerdaskan dan mendewasakan. Pendidikan yang menghilangkan kedunguan dan keterbelakangan.

Jadi, pendidikan adalah perang melawan kedunguan. Perang melawan keterbelakangan. Perang melawan kemalasan. Perang melawan kemiskinan. Perang melawan permusuhan. Perang melawan kebencian. Perang melawan kebohongan. Perang melawan pengkhianatan. Perang melawan kepalsuan. Perang melawan kemunafikan. Perang melawan ketidakadilan. Perang melawan kesewenang-wenangan. Perang melawan keserakahan. Perang melawan ketamakan. Perang melawan hegemoni. Perang melawan tirani.

Salam GBK - Gerakan Bangkit Kebumen

dalam keheningan waktu sahur hari ke 10 Ramadhan 1439, bertepatan 26 Mei 2018 dalam sepinya latar mburi rumahku

Arief Luqman El Hakiem
Pegiat Media dan Pengamat Kebijakan Publik

Selasa, 22 Mei 2018

SIAPA (layak jadi) WAKIL BUPATI KEBUMEN ?

Sehari pasca ditahannya Bupati Kebumen, Ir. H. Mohammad Yahya Fuad, SE oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) , saya menulis sebuah artikel, "Bupati Sebaiknya Mengundurkan Diri". Setidaknya ada 5 (lima) alasan yang saya kemukakan, mengapa seorang penyelenggara negara (Bupati / Walikota, Gubernur) sebaiknya mengundurkan diri ketika menjadi tersangka KPK.

1. Alasan Hukum Positif
2. Alasan Etika dan Moral
3. Keberlangsungan Tata Pemerintahan, Pembangunan dan Pelayanan Publik
4. Fokus pada Kasus Hukum yang Membelitnya
5. Keteladanan dan Membangun Tradisi Mulia

Tiga bulan sudah Yahya Fuad resmi menjadi tahanan KPK terhitung sejak Senin, 19 Feberuari 2018, dan hingga kini belum mengundurkan diri, statusnya masih Bupati non aktif. Kebumen betul-betul mengalami krisis kepemimpinan, tidak memiliki Bupati definitif dan Sekda definitif. Wakil Bupati, KH. Yazid Mahfudz, hanya PLT Bupati, dan M. Fauzy hanya PLH Sekda.

Diakui atau tidak, disadari atau tidak, kondisi ini mengganggu jalannya roda pemerintahan di Kebumen. Program pembangunan dan pengentasan kemiskinan tidak berjalan maksimal, pelayanan publik juga tidak optimal. Yazid Mahfudz selaku pelaksana tugas bupati tentu gamang dan tidak bebas dalam membuat keputusan-keputusan strategis.

Saat ini media dan publik Kebumen kembali ramai meminta agar Yahya Fuad secara legowo mengundurkan diri. Ini tentu memerlukan tinjauan secara hukum, bagaimana dasar dan payung hukum pengunduran diri seorang kepala daerah yang sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi KPK dan ditahan pula.

Publik juga sudah diramaikan seputar bursa calon Wakil Bupati yang akan mendampingi Gus Yazid, panggilan akrab PLT Bupati, KH. Yazid Mahfudz. Beberapa nama sudah beredar dan disodorkan ke publik. Ada dari kalangan politisi, aktifis dan profesional. Bahkan putra sulung Yahya Fuad, Faiz Alauddien Reza Mardhika yang seorang dokter juga digadang-gadang masuk bursa wakil bupati.

Meski harus menunggu kasus Yahya Fuad memiliki kekuatan hukum tetap (incraacht), atau dengan suka rela mengundurkan diri, namun persoalan calon wakil bupati tidak ada salahnya dibahas. Saya sendiri berpandangan, bahwa belajar dari pengalaman dan mempertimbangkan situasi yang ada, sebaiknya pembicaraan siapa yang layak menjadi wakil bupati, kita mulai dari menyusun kriteria (persyaratan) sebelum menyebut nama.

Sosok seperti apa yang memenuhi syarat dan pantas mendampingi Gus Yazid untuk memimpin Kebumen dua setengah tahun ke depan (hingga tahun 2021). Dalam pandangan saya, paling tidak ada 5 (lima) kriteria atau syarat seseorang yang akan menjadi wakil bupati Kebumen.

1. Diusulkan oleh Partai Pengusung Fuad-Yazid

Ini adalah syarat mutlak, bahwa calon wakil bupati tersebut harus didukung dan diusulkan oleh partai atau gabungan parta yang mengusung pasangan Fuad-Yazid pada Pilkada kemarin.

Dasar hukumnya adalah UU No. 23 tahun 2014  tentang Pemerintah Daerah, di mana kepala daerah atau wakil kepala daerah berhenti karena meninggal dunia, permintaan sendiri, dan diberhentikan (lihat pasal 78) maka pengisian jabatan wakil kepala daerah dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan mengenai pemilihan kepala daerah (pasal 89).

Artinya, dalam pengisian jabatan Wakil Bupati, kita harus berpedoman pada  UU No. 10 tahun 2016 tentang Perubahan Kedua UU No. 1 tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU No. 1 tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, Walikota menjadi Undang-Undang.

Di dalam undang-undang ini dijelaskan (pasal 176),  dalam hal Wakil Gubernur, Wakil Bupati, dan Wakil Walikota  berhenti, pengisian jabatan Wakil Gubernur, Wakil Bupati, dan Wakil Walikota dilakukan melalui mekanisme pemilihan oleh DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten, dan DPRD Kota, berdasarkan usulan dari Partai Politik atau gabungan Partai Politik pengusung.

Di pasal ini (ayat 2) juga disebutkan, partai politik atau gabungan Partai Politik pengusung mengusulkan 2 (dua) orang calon Wakil Gubernur, Wakil Bupati, Wakil Walikota kepada DPRD melalui Gubernur, Bupati atau Walikota untuk dipilih dalam rapat paripurna DPRD.

Di sini sudah sangat jelas, yang berhak mengajukan calon adalah Partai Politik atau gabungan Partai Politik pengusung yang memenangkan pemilihan kepala daerah tahun 2015 yang lalu. Artinya, dua orang calon Wakil Bupati yang diusulkan oleh Partai Politik pengusung harus sama dan tidak bisa berbeda-beda.

Setelah didapat dua calon yang disetujui oleh seluruh Partai Politik pengusung, baru diajukan ke DPRD melalui Bupati untuk dipilih dalam rapat pleno. Jadi tugas seorang Bupati di sini hanya menyampaikan dua nama calon Wakil Bupati yang diajukan oleh Partai Politik atau gabungan Partai Politik ke DPRD, bukan mengusulkan !!

Sekali lagi hanya menyampaikan apa yang sudah diusulkan Partai Politik pengusung.

Jadi, calon wakil bupati Kebumen nanti harus didukung dan diusulkan oleh PAN, PKB, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), dan Partai Demokrat.

2. Bisa Bekerjasama Dengan Gus Yazid Sebagai Bupati Definitif

Menurut saya ini juga syarat wajib dan harus, dimana calon wakil bupati yang diudulkan nanti harus bisa bekerja sama dengan Gus Yazid sebagai Bupati. Dia harus bisa menutup kekuarangan dan kelemahan yang ada pada diri Gus Yazid. Mereka berdua harus kompak dan harmonis membawa bahtera Kebumen menuju pulau kemajuan dan kesejahteraan.

3. Berpengalaman dan Matang dalam Tata Pemerintahan

Ini syarat penting dan utama. Jabatan kepala atau wakil kepala daerah bukan untuk main-main atau coba-coba, apalagi ajang untuk belajar dan mencari pengalaman. Seorang bupati dan wakil bupati beban tanggung jawabnya berat. Harus orang yang betul-betul memiliki kemampuan leadership, manajerial, kematangan dan kedewasaan berpikir, terutama dalam bidang tata pemerintahan dan birokrasi.

Apalagi untuk kasus di Kebumen hanya melanjutkan dalam waktu separuh masa jabatan. Apa jadinya jika wakil bupati yang diajukan adalah dia yang masih hijau dan mentah, tidak punya kapasitas dan belum teruji integritasnya.

4. Menguasai Persoalan dan Dinamika Kebumen

Ini juga syarat penting. Orang yang nanti diudulkan untuk menjadi wakil bupati Kebumen adalah dia yang telah mengerti, memahami peta politik, situasi birokrasi, keadaan demografi dan geografi Kebumen. Termasuk harus memahami karakter dan budaya masyarakat Kebumen. Akan sangat berisiko jika wakil bupati nanti adalah orang baru yang sama sekali tidak mengenal Kebumen.

5. Bebas Dari Dosa Masa Lalu

Yang terakhir menurut saya syarat pokok dan menentukan. Orang yang pantas menjadi wakil bupati adalah dia yang terbebas dosa masa lalu birokrasi Kebumen. Tidak terlibat dan terindikasi masuk pusaran korupsi di Kebumen. Sebagaimana kita ketahui bahwa hingga saat ini KPK masih keluar masuk Kebumen. Penanganan kasus korupsi di Kebumen belum benar-benar selesai, masih ada kemungkinan bertambah pejabat pemkab Kebumen yang menjadi tersangka.

Apa jadinya jika wakil bupati nanti harus sibuk kesana kemari memenuhi panggilan penyidik KPK, belum lagi jika kemudian terbukti terlibat dalam tindak pidana korupsi, akan kosong lagi jabatan wakil bupati. Jadi seyogyanya, calon wakil bupati yang diusulkan adalah dia yang terbebas dari dosa masa lalu di Kebumen.

Nah, kesimpulannya dari kelima kriteria tersebut bisa berasal dari internal Kebumen maupun orang Kebumen yang bekerja atau berdinas di luar Kebumen. Dan saya cenderung memilih dia yang berasal dari orang profesional, baik birokrat atau akademisi.

Namun semua skenario tersebut tidak ada gunanya jika Mohammad Yahya Fuad bersikeras tidak mau mengundurkan diri hingga ada keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Bisa saja Yahya Fuad mengajukan banding pada pengadilan tingkat pertama, kemudian kasasi dan seterusnya. Proses ini bisa memakan waktu satu hingga dua tahun. Pada saat yang sama, masa jabatan Bupati sudah habis.

Semoga masing-masing pihak memberikan keputusan bijak dan yang terbaik buat Kebumen.

Salam GBK - Gerakan Bangkit Kebumen !

hari ke 7 Ramadhan 1439 Hijriah bertepatan 23 Mei 2018
di keheningan latar mburi waktu subuh yang membasuh

Arief Luqman El Hakiem
(Pegiat Media dan Pengamat Kebijakan Publik, Penggagas Gerakan Bangkit Kebumen)

Rabu, 16 Mei 2018

11 Peperangan dan Peristiwa Inspiratif di Bulan Ramadhan

1. Pembebasan Makkah (Fathul Makkah)

Tahun 630 Masehi tepatnya 10 Ramadan 8 Hijriah, Nabi Muhammad SAW beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Makkah, dan kemudian menguasai Makkah secara keseluruhan tanpa pertumpahan darah sedikit pun, sekaligus menghancurkan berhala yang ditempatkan di dalam dan sekitar Ka’bah.

2. Perang Badar Kubro'

Jumat 2 Ramadhan tahun ke-2 H terjadi perang pertama dalam Islam yang dikenal Perang Badar. Perang ini melibatkan tentara Islam sebanyak 313 anggota berhadapan dengan 1.000 tentara musyrikin Makkah yang lengkap bersenjata. Dalam perang ini, tentara Islam memenangkan pertempuran dengan 70 tentara musyrikin terbunuh, 70 lagi ditawan. Sisanya melarikan diri.

3. Seluruh Penduduk Yaman Masuk Islam

Ramadan tahun ke-10 Hijriah Nabi Muhammad SAW mengutus Ali bin Abi Thalib dengan membawa surat beliau untuk penduduk Yaman khususnya suku Hamdan. Dalam periode satu hari, semua mereka memeluk agama Islam secara aman dan damai.

4. Berhala Al 'Uzza Dihancurkan

Lima hari sebelum berakhirnya Ramadhan tahun ke-9 Hijriah, Rasulullah SAW mengirim Khalid bin Walid untuk memusnahkan patung al ‘Uzza di Nakhla. Menurut kepercayaan Arab jahiliyah, al ‘Uzza adalah patung dewi terbesar di daerah tersebut. Khalid bin Walid melaksanakan tugas itu dengan bergerak menuju ke Nakhla lalu menghancurkan patung al ‘Uzza.

5. Kota Taif Diserahkan Kepada Tentara Islam

Bani Thaqif datang ke Makkah di bulan Ramadan tahun ke-9 H dengan menyerahkan kota Taif sebagai tanda menyerah, setelah sebelumnya Nabi Muhammad SAW dan tentara Islam maju ke Taif dan mengepungnya dalam waktu lama.

6. Pembebasan Andalusia (Spanyol)

Pada 28 Ramadan tahun ke-92 H, panglima Islam bernama Tariq bin Ziyad dikirim pemerintahan Bani Umayyah untuk menawan Andalus. Andalus adalah nama Arab yang diberikan kepada wilayah-wilayah bagian semenanjung Liberia yang diperintah oleh orang Islam selama beberapa waktu mulai tahun 711 sampai 1492 M.

7. Kemenangan Tentara Islam dalam Perang Zallaqah di Portugal

Subuh hari Jumat, bulan Ramadan tahun 459 Hijriah terjadi kebangkitan dinasti Murabit di Afrika Utara. Gubernur Cordova, Al Muktamin meminta bantuan Sultan Dinasti Murabit, Yusuf bin Tasyifin untuk memerangi Alfonso VI. Tentara yang dipimpin oleh Alfonso VI yang berjumlah 80.000 tentara berhasil dikalahkan. Dalam waktu yang singkat Sultan Yusuf berhasil menguasai seluruh Spanyol dan menyelamatkan umat Islam.

8. Tentara Islam Mengalahkan Tentara Mongol

Pada 15 Ramadan 658 H bersamaan 1260 M, tentara Islam dan para ulama pimpinan Sultan Qutuz dari dinasti Mamluk, Mesir bangkit dan menyerbu ke Palestina setelah Mongol menguasainya. Kedua pihak bertemu di Ain jalut. Dalam pertempuran itu, tentara Islam meraih kemenangan dan berhasil menawan Kitbuqa Noyen, penasihat Hulagu Khan yang menasihatinya untuk menyerang Baghdad. Kitbuqa akhirnya dieksekusi.

9. Tentara Islam Mengalahkan Tentara Rusia

Pada 15 Ramadan 1294 H, tentara Islam dari Dinasti Ottoman yang dipimpin oleh Ahmad Mukhtar Basya dengan jumlah 34.000 anggota mengalahkan tentara Rusia yang berjumlah 740.000. Sebanyak 10.000 tentara Rusia tewas dalam pertempuran itu. Ia menjadi kebanggaan umat Islam mempertahankan agama yang diancam oleh pemerintah Tzar di Rusia.

10. Tentara Islam Merebut Garis Bar Lev, Israel

Dalam sejarah modern, terjadi Perang Yom Kippur yang melibatkan tentara Islam (Mesir dan Syria) dengan tentara Israel pada 10 Ramadan 1390 H bertepatan dengan 6 0ktober sampai 22 atau 24 Oktober 1973 M. Perang Yom Kippur, juga dikenal sebagai perang Arab-Israel 1973, Perang Oktober, dan Perang Ramadan.

Israel membangun barisan pertahanan di Sinai dan bukit Golan. Pada tahun 1971, Israel mengalokasikan USD 500 juta untuk membangun benteng dan kerja tanah raksasa yang dinamai Garis Bar Lev, mengambil nama jenderal Israel, Haim Ber Lev. Tentara Islam berhasil merebut benteng itu sekaligus mengalahkan Israel.

11. Bulan Diturunkannya Al Qur'an

Imam Ibnu Katsir menjelaskan: “Allah SWT memuji Ramadan di antara bulan-bulan lainnya, karena Dia telah memilihnya di antara semua bulan sebagai bulan yang padanya diturunkan Al-quran yang agung”.

Sebagaimana Allah mengkhususkan Ramadan sebagai bulan diturunkannya Alquran, sesungguhnya telah disebutkan oleh hadits bahwa pada bulan Ramadhan pula kitab Allah lainnya diturunkan kepada para Nabi sebelum Nabi Muhammad saw.

Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya meriwayatkan: “Lembaran-lembaran (shuhuf) Nabi Ibrahim diturunkan pada permulaan malam Ramadan dan kitab Taurat diturunkan pada tanggal enam Ramadan, dan kitab Injil diturunkan pada tanggal tiga belas Ramadan, sedang Alquran diturunkan pada tanggal dua puluh empat Ramadhan.” (HR. Ahmad dalam Musnad, dan dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah, no. 1575).

Itulah 11 peristiwa penting dan inspiratif yang terjadi pada bulan Ramadhan yang penuh berkah.

diambil dari berbagai sumber.
Arief Luqman El Hakiem

Senin, 14 Mei 2018

BUSH, HOAX DAN TERORISME

Indonesia kembali berduka. Setelah aksi brutal para napi teroris di Mako Brimob Kelapa Dua Depok, selang tiga hari ada aksi biadab pengeboman di tiga titik tempat ibadah di Surabaya. Tidak satu agama pun yang membenarkan aksi teror dan sadisme. Semua sepakat bahwa terorisme adalah musuh bersama yang harus diperangi.

Istilah teroris dan terorisme populer sejak Tragedi WTC (World Trade Center), 9 September 2001 di New York, Amerika Serikat. Menurut laporan tim investigasi 911, sekitar 3.000 jiwa tewas dalam tragedi ini. Jauh sebelum itu banyak sekali terjadi aksi bom bunuh diri di Timur Tengah dan negara lain, namun tidak disebut sebagai teroris, dan tidak ada diskursus tentang terorisme.

Bahkan di Indonesia, kelompok DI/TII yang menyebar teror di beberapa wilayah Indonesia pasca kemerdekaan 1945 tidak disebut sebagai teroris. Di masa Orde Baru, Kelompok Mujahidin Lampung, Komando Jihad dan pelaku kerusuhan Priok juga tidak disebut sebagai teroris. Namun sejak Tragedi WTC 911, semua aksi teror yang melibatkan umat Islam dikaitkan dengan terorisme.

Sembilan hari pasca Tragedi WTC 911, George Walker Bush, presiden Amerika Serikat kala itu, menyatakan perang terhadap terorisme. Ia menyebut pelakunya adalah militan Islam Al Qaeda dan Presiden Irak, Saddam Hussein. Osama bin Laden juga terlibat dalam serangan ini.

“Kita pertama-tama akan memerangi Al Qaeda, tetapi itu bukan akhir. Perang ini tidak akan berakhir sampai semua kelompok teroris di seluruh dunia ditemukan, dihentikan dan dikalahkan,” serunya yang mengundang tepuk tangan riuh.

Pernyataan Bush yang paling terkenal adalah, "Every nation, in every region, now has a decision to make. Either you are with us, or you are with the terrorists." ("Setiap negara, di setiap wilayah, sekarang memiliki keputusan untuk dibuat. Entah Anda bersama kami, atau Anda bersama para teroris").

Dengan strategi “carrot and stick policy”nya, AS tidak segan-segan memberi imbalan pada pemimpin negara-negara yang tunduk padanya. Sebaliknya, akan menghajar negara yang tidak taat padanya.

Amerika Serikat merespon Tragedi WTC dengan meluncurkan Perang Melawan Teror yaitu menyerang Afghanistan untuk menggulingkan Taliban yang melindungi anggota-anggota al-Qaeda. Banyak negara yang memperkuat undang-undang anti-terorisme mereka dan memperluas kekuatan penegak hukumnya.

Densus 88 Anti Teror

Sejak itulah istilah teroris dan terorisme begitu populer di dunia. Di Indonesia bahkan dibentuk Satuan Tugas Anti Teror, Detasemen Khusus 88 . Satgas ini dilatarbelakangi aksi teror bom bunuh diri di Paddy's Pub dan Sari Club ( SC) di Jalan Legian, Kuta, Bali tahun 2002 silam, setahun pasca Tragedi WTC. Tercatat 202 korban jiwa  dan 209 orang luka-luka atau cedera, kebanyakan korban merupakan wisatawan asing yang sedang berkunjung ke lokasi yang merupakan tempat wisata tersebut. Dari 202 korban tewas, 88 diantaranya warga Australia.

Densus 88 ini sejak mula dirintis oleh Kombespol Gories Mere (Perwira polisi asal Flores) yang kemudian diresmikan oleh Kapolda Metro Jaya Irjen. Pol. Firman Gani pada tanggal 26 Agustus 2004 . Detasemen 88 yang awalnya beranggotakan 75 orang ini dipimpin oleh AKBP Tito Karnavian yang pernah mendapat pelatihan di beberapa negara . Tahun 2011 jumlah personil Densus 88 adalah 337 orang.

Densus 88 dibentuk dengan Skep Kapolri No. 30/VI/2003 tertanggal 20 Juni 2003, untuk melaksanakan Undang-undang No. 15 Tahun 2003 tentang penetapan Perpu No. 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, yaitu dengan kewenangan melakukan penangkapan dengan bukti awal yang dapat berasal dari laporan intelijen manapun, selama 7 x 24 jam (sesuai pasal 26 & 28). Undang-undang tersebut populer di dunia sebagai "Anti-Terrorism Act".

Angka 88 berasal dari kata ATA (Anti-Terrorism Act), yang jika dilafalkan dalam bahasa Inggris berbunyi Ei Ti Ekt. Pelafalan ini kedengaran seperti Eighty Eight (88). Jadi arti angka 88 bukan seperti yang selama ini beredar bahwa 88 adalah representasi dari jumlah korban bom bali terbanyak (88 orang dari Australia), juga bukan pula representasi dari borgol.

Pasukan khusus ini dibiayai oleh pemerintah Amerika Serikat melalui bagian Jasa Keamanan Diplomatik ( Diplomatic Security Service ) Departemen Luar Negeri AS dan dilatih langsung oleh instruktur dari CIA , FBI , dan U.S. Secret Service. Kebanyakan staf pengajarnya adalah bekas anggota pasukan khusus AS. Informasi yang bersumber dari FEER pada tahun 2003 ini dibantah oleh Kepala Bidang Penerangan Umum (Kabidpenum) Divisi Humas Polri, Kombes Zainuri Lubis, dan Kapolri Jenderal Pol Da’i Bachtiar.

Sekalipun demikian, terdapat bantuan signifikan dari pemerintah Amerika Serikat dan Australia dalam pembentukan dan operasional Detasemen Khusus 88. Pasca-pembentukan, Densus 88 dilakukan pula kerja sama dengan beberapa negara lain seperti Inggris dan Jerman. Hal ini dilakukan sejalan dengan UU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme pasal 43.

Terorisme sebagai Isu Politik

Perang Melawan Terorisme menjadi legitimasi publik Amerika Serikat bahkan dunia yang diberikan kepada George W Bush untuk melakukan apapun. Anggaran yang besar, kewenangan yang luas hingga politik luar negeri yang ekspansive.

Afghanistan adalah korban pertama Bush dalam program Perang Melawan Terorisme. Padahal kita tahun bahwa kelompok Thaliban sebagai penguasa Afghanistan adalah didikan CIA ketika perang melawan pasukan Beruang Merah, Uni Soviet. Keluarga Osama bin Laden sebagai dedengkot Al Qaeda juga merupakan mitra bisnis Amerika Serikat, yang banyak memiliki bisnis properti di negeri Paman Sam.

Tahun 2003 giliran Irak yang menjadi korban propaganda Bush. Saddam Hussein yang menjadi presiden Irak kala itu dituduh mendukung Al Qaeda dan memiliki senjata pemusnahan massal. Hanya perlu tiga pekan bagi para awak tank Amerika Serikat (AS), untuk menerobos padang pasir Irak menuju jantung kota Baghdad dan menggulingkan rezim Saddam Hussein pada tanggal 9 April 2003.

Ratusan ribu rakyat Irak menjadi korban kala itu, jutaan menjadi pengungsi dan mereka yang bertahan hidup dalam kondisi sengsara, tanpa pekerjaan dan kesulitan mendapatkan kebutuhan pokok. Beberapa tahun berlalu, nyanyian suka cita saat menyambut pasukan AS kini tidak lagi terdengar, bahkan yang muncul adalah komentar kebencian. "Awalnya kami gembira, tapi sekarang kami benci orang Amerika," kata Moieb Sfeih (33) pembuat roti di Sadr City, suatu sudut di kota Baghdad.

Dan ternyata tuduhan bahwa Saddam Hussein mengembangkan senjata pemusnahan massal hanya hoax, bualan Amerika Serikat agar dapat legitimasi menggulingkan pemerintah Saddam Hussein. Karena hingga sekarang Irak tidak terbukti memiliki instalasi untuk mengembangkan senjata pemusnahan massal.

Tahun 2011 giliran Libya menjadi korban keganasan politik Amerika Serikat. Menggandeng kelompok oposisi di negara tersebut,  Amerika Serikat bersama  NATO berhasil membuat kemelut sejak Februari 2011. Libya dilanda gelombang demonstrasi dan kerusuhan sejak saat itu. Puncaknya, Kamis 20 Oktober 2011 menjadi hari terakhir bagi pemimpin Libya, Muammar Khadafi menghirup udara segar. Pemimpin Libya yang telah berkuasa selama 42 tahun, 1969-2011, menemui ajalnya. Ia tewas di tangan pasukan oposisi yang disebut tentara Transisi Nasional Libya (NTC) yang didukung oleh NATO pimpinan Amerika Serikat.

Secara politik, terorisme menjadi semacam isu paling ampuh untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas Bush. Menurut beberapa pengamat, sebetulnya George W Bush dianggap sebagai presiden Amerika Serikat paling bodoh, tidak cerdas dan kurang berkualitas. Tata bahasa dan kebijakannya tidak berkelas. Namun ia mampu mengkapitalisasi Tragedi WTC 911 untuk dikonversi menjadi dukungan suara. Pada pemilihan presiden periode kedua (2004) Bush menang mudah melawan Jhon Kerry, padahal pada pilpres pertama (2000) melawan Al Gore, kemenangan Bush penuh dengan kemelut. Pada Pilpres tahun 2000, Bush menjadi presiden keempat dalam sejarah AS yang dipilih tanpa memenangkan suara rakyat setelah 1824, 1876, dan 1888.

Terorisme dalam Perang Peradaban

Secara ideologi, Perang Melawan Terorisme adalah keniscayaan yang sudah diprediksi oleh Samuel F Huntington dalam thesis nya "Clas of Civilization". Bahwa pasca keruntuhan Uni Soviet dengan ide komunisme-nya, maka musuh Barat (Kapitalisme) adalah Islam dan Kong Fu Tze-an. Maka isu terorisme selalu dikaitkan dengan kelompok Islam politik dan Islam ideologi. Ketika publik menyebut teroris maka yang terbayang dalam benaknya adalah sosok kearab-araban dengan jenggot dan sorban.

Amerika Serikat berhasil membangun stigma bahwa Islam identik dengan ideologi teroris. Kata jihad dan khilafah menjadi kata paling buruk dalam pembicaraan publik. Padahal sejatinya jihad adalah puncak kemuliaan dan keagungan dalam ajaran Islam. Sementara khilafah dan imamah adalah istilah fiqh yang ada dalam kitab-kitab hukum Islam, bahkan dalam pesantren-pesantren NU pun selalu dibahas.

Dalam konteks Indonesia, isu terorisme dan setiap kejadian teror juga dikapitalisasi oleh penguasa untuk menaikkan popularitas dan elektabilitas. Kedua hal tersebut dikonversi menjadi dukungan suara dalam pemilu. Pada saat yang sama, isu terorisme juga dipakai sebagai alat untuk menghantam lawan politik penguasa. Karena begitulah prinsip politik, yaitu kemampuan mengkapitalisasi persoalan menjadi dukungan.

Apa yang terjadi di Amerika Serikat dan dilakukan oleh George W Bush bisa menjadi data dan bahan analisis para pengamat untuk memotret perpolitikan Indonesia menjelang Pilpres 2019. Kita lihat saja bersama..

Yogyakarta, 15 Mei 2018
Arief Luqman El Hakiem
Pegiat Media dan Inisiator Gerakan Anti Hoax (GERAX)