Cari Blog Ini

Rabu, 27 Desember 2017

Semua LGBT Berakhir Tragis !!! (Catatan Seorang Dokter Neurologi)

Gay itu ada “kasta”nya...
Ada yang "dominan", biasanya yang punya uang dan lebih tua secara umur, ada yang "submissif", kalau saya perhatikan, semacam “piaraan”.

Piaraan ini berkasta juga, ada anak muda putih bersih klimis dari kalangan keluarga menengah, ada juga yang kelas sandal jepit (bukan yg harga 18 ribu ya 😔).

Perlakuan dari yg "dominan" pada "piaraan" juga berbeda sesuai KW piaraan. Yg KW ori diperlakukan sgt istimewa.

Waktu sy kerja di klinik HIV RSCM, pernah dapat pasien mahasiswa univ swasta terkenal di Jakarta, yg kena meningitis kriptokokus (jamur otak).

Orang tuanya pekerja petrol, tinggal di dallas, US. Dia disini tinggal sendiri. Anaknya tampan, klimis, n kelihatan anak baik.

"Dominan"nya sering ikut mengantar kalau kontrol. Jangan kaget ya, dominannya ini seorang AKTIVIS LSM ANTI-HIV.

Itu kalau si pasien saya ini mengeluh sakit kepala, si dominan ini mengelus-elus punggung si "submissif" sambil bilang “sakit ya sayang? Yg mana yg sakit? Sabar ya sayang..” (untung sy msh setia pd sumpah hipocrates, klu sy berkhianat, si dominan itu mau sy suntik fentanyl 1000 cc biar mokat).

Tapi sy pernah juga dapat seorg dominan yang kena infeksi di medulla spinalis, spondilitis TB, jd lumpuh kedua kakinya tiba-tiba.

Pas dirawat, submissifnya datang menemani. Itu dibentak2, gak ada sayang2, si submissif ini tampilannya siy kelas sandal jepit.

Manggil dominannya “abaaaang..” (jijik ya dengarnya)
Ada juga piaraan bayaran. Satu pasien sy asal jogja mengaku dia bayaran (sekarang sudah meninggal dg toksoensefalitis; bisul di dalam otak karena kuman tokso yg sering nempel di badan kucing, anjing).

Di”piara” seorg aki-aki cina utk bayaran 1000-2000 USD per bulan. Uangnya dia kirim ke jogja utk anak n istrinya 😩.

Dia ini sejatinya bukan gay. Jadi semacam pelacur lelaki. Kerja sbg caddy lelaki di satu lapangan golf di tangerang.

Waktu ketahuan HIV dan tokso, nangis meraung2, selama dirawat baca Qur’an terus, kalau sy periksa, selalu terisak2 dan bilang menyesal.
Pas ketemu bininya, saya yg berkaca2. Sebab bininya perempuan berhijab rapi dg dua balita yg juga berhijab.

Ada juga gay kakak adik. Sejak kecil dikasih satu kamar dan satu ranjang oleh emak bapaknya. Pas gede, tau2 yg kakak kena kripto.

Dicek HIV positif, ditanya pasangannya siapa, dia bilang adiknya. Pas adiknya dicek, positif juga hiv nya. Kedua2nya sdh meninggal, dlm satu ruang rawat yg sama.

Ayahnya sampe anak2 itu dikubur pun gak pernah mau datang nengok...

Cerita gay SEMUA TRAGIS... belum pernah saya dengar yg berakhir seperti di cerita fairytopia...

misalnya berakhir kayak Cinderella...

kisah para gay berakhir dengan tokso, kripto, TB, pnemonia, kandida, dan diujungnya, mati sendirian tanpa didampingi kaum nya...

Saya gak ngerti kenapa pemerintah abai pada masalah ini...

Sejak 1997, Prof Sjamsurijal gak capek2nya mengingatkan, tapi faktanya, mereka semakin banyak...

Sumber: portal-islam.id

Sabtu, 16 Desember 2017

KODE #SR6.9 ; CARA TUHAN MEMBONGKAR KEBUSUKAN MAFIA PROYEK & ANGGARAN

Gempa bumi dengan kekuatan 6.9 SR (kode #SR6.9) yang melanda kawasan Tasikmalaya, Jawa Barat, Jum'at (15/12) sekira pukul 23:47 WIB membawa hikmah tersendiri bagi dunia proyek dan infrastruktur.

Foto-foto kerusakan Rumah Sakit Margono di Purwokerto dan RS Banyumas menjadi viral di media sosial yang akhirnya terkonfirmasi kebenarannya di media elektronik televisi. Beneran bagian tembok dan plafon rumah sakit nampak rusak parah akibat guncangan gempa yang terjadi semalam.

Berbagai komentar warganet bermunculan menanggapi kondisi tersebut. Grup-grup WhatsApp juga dipenuhi komentar yang mempertanyakan kualitas bangunan yang relatif baru tersebut.

Komentar akun Nuh Dwiyatmoko misalnya, "Masa bangunan baru bisa sampai rusak parah gitu, sementara di sekitarnya bangunan yang lebih tua tidak terpengaruh".

Akun Facebook Bang Qodir bahkan lebih keras menanggapi, "Ini menunjukkan kualitas bangunan jaman now, yang semennya dirampok para pemborong proyek".

Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia proyek infrastruktur dipenuhi mafia dan para koruptor. Kualitas bangunan baik gedung maupun jalan jauh dari apa yang disebut "standar".

Jalan yang baru saja diaspal hanya bertahan beberapa bulan untuk berubah menjadi kubangan. Bahkan beberapa ruas jalan di Kebumen sudah harus ditambal sana sini padahal belum diserahterimakan. Jalan Daendels yang menghubungkan Yogyakarta - Cilacap, depan baru ditambal belakangnya sudah buyar aspalnya.

Kualitas AMP (aspal) yang mirip pasir dicampur olie pasti akan hancur ketika diguyur hujan dan diinjak kendaraan besar. Sama seperti ketika komposisi adukan semen tidak standar, akan terkelupas ketika ada sedikit guncangan.

Kualitas bangunan infrastruktur yang memprihatinkan bukan hanya kecurangan pemborong proyek. Namun dampak dari lingkaran setan mafia proyek dan anggaran. Biaya non-teknis yang besar menjadi sebab sebuah proyek hanya menyisakan 40-60 % dari total pagu yang dianggarkan.

Lantas kemana larinya uang tersebut ?

Sudah menjadi rahasia umum bahwa pemenang proyek harus mengeluarkan sejumlah dana hingga 10% dimuka untuk dapat memenangkan lelang. Belum lagi alokasi untuk pejabat setempat, jatah preman yang mengatasnamakan organisasi pemuda, upeti untuk oknum aparat, amplop untuk membungkam oknum wartawan dan oknum aktivis LSM serta masih banyak belanja non-teknis lainnya.

Kondisi ini makin diperparah ketika oknum pengawas dan auditor yang juga bisa disuap. Jadilah lingkaran setan mafia proyek dan anggaran. Korbannya tentu kualitas bangunan yang jauh dari standar mutu, seperti yang terlihat pada rumah sakit di Banyumas.

Uang negara dirampok dan dikorup oleh rakyatnya sendiri. Inilah istimewanya kejahatan korupsi, dimana korbannya tidak merasa dirugikan. Karena korupsi adalah pencurian uang rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Pemborong, pejabat, oknum aparat, oknum wartawan, oknum LSM dan pemuda adalah rakyat yang merampok uangnya rakyat. Luar biasa !

Menurut saya, koruptor bukanlah penjahat, namun lebih tepat disebut sebagai orang yang sakit. Sakit jiwanya, sakit mentalnya dan sakit nalarnya. Mengapa para koruptor lebih layak disebut sebagai orang sakit ?

Para koruptor ini berpenampilan tidak selayaknya seperti penjahat yang bertato dengan codet di pipi, wajah seram dengan kumis melintang.  Mereka nampak rapi dan klimis dengan jas dan dasi yang keren, namun hatinya busuk. Bahkan kadang mereka selalu menasihati untuk menjauhi korupsi, katakan tidak pada korupsi, mengingatkan anak buahnya untuk jujur. Padahal mereka meraih jabatan dengan cara menyuap dan menjadi rajanya koruptor.

Saking sakitnya para koruptor ini, ketika ketahuan dan ditangkap bukannya menyesal dan bertobat tapi masih melawan dan mengelak sambil cengengesan melambaikan tangan di hadapan kamera wartawan. Benar-benar orang yang sakit jiwanya !

Kebumen, 16 Desember 2017
Arief Luqman El Hakiem
Pemerhati Kebijakan Publik dan Pegiat Media

Jumat, 08 Desember 2017

Anies Baswedan ; Donald Trump Rusak Tatanan dan Langgar Kesepakatan

Mata dunia kini tengah menyoroti babak baru konflik antara Israel dan Palestina.

Persoalan ini berawal dari pernyataan Presiden Amerika Serikat , Donald Trump , terkait pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel .

Bukan cuma itu , Trump pun berencana memindahkan Kedutaan Besar AS untuk Israel ke Yerusalem .
Tak pelak, pernyataan kontroversial Trump tersebut menyita perhatian sejumlah pihak , terutama dari pihak Palestina maupun para Kepala Negara di dunia .

Banyak kepala negara yang mengecam pernyataan Trump yang dinilai melangkahi wewenang Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

Gara- gara pernyataan Trump , bara antara Israel dan Palestina kembali menyala , konflik baru tercipta di kedua wilayah tersebut.

Indonesia , lewat pernyataan Presiden Joko Widodo , menyatakan ketegasannya mengecam pernyataan Trump dan berada di belakang Palestina.

Bukan cuma Jokowi , Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pun melontarkan pendapatnya terkait pernyataan Trump.

Anies mengecamnya. Hal itu diekspresikan lewat akun jejaring sosial Instagram miliknya , @ aniesbaswedan.

Berikut statusnya :

Dunia terperangah . Shocked !
Langkah Presiden Trump yang menyatakan pengakuan Yerusalem sebagai ibukota Israel telah merusak tatanan dan melanggar semua kesepakatan yang pernah ada.

Kita mendukung pernyataan tegas Presiden @ Jokowi dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam mengecam keras langkah Presiden Trump , menunjukkan bahayanya langkah tersebut bagi stabilitas keamanan Timur Tengah dan dunia.

Masalah Palestina adalah masalah kemanusiaan. Telah ditegaskan pula sikap bangsa Indonesia terhadap kemerdekaan.

Bahkan dalam ASIAN GAMES 1962, Presiden Soekarno menolak keikutsertaan Israel . Kita wajib menjaga ketegasan ini !

Kemerdekaan adalah hak segala bangsa . Perjuangan untuk merdeka sesungguhnya memang jalan yang panjang dan mendaki.

Setiap kejadian seperti ini adalah pompa bagi perjuangan.

Doa dan dukungan kita bagi perjuangan dan bagi kemerdekaan rakyat Palestina.

Doa bagi ibu- ibu di Palestina untuk terus melahirkan pejuang, doa bagi keluarga - keluarga di Palestina utk terus membesarkan pejuang , dan doa untuk dunia agar tetap berdiri tegak di sisi keadilan : Kemerdekaan Palestina!

Selain menulis status, Anies juga memajang fotonya tengah berpose membaca surat kabar dengan headline berjudul ‘ Kami Bersama Palestina’.

Bukan cuma itu , Anies pun tampak mengenakan syal dengan corak bendera Palestina.

Status Anies Baswedan ini menuai dukungan dari para follower - nya .
Gara- gara status Anies , amarah netizen berkobar untuk Trump dan klaimnya terkait Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel .

Berikut komentarnya :

vinakurnia95: Indonesia bersama Palestina

chiecitrasafitri : # kamibersamapalestina . Allahuakbar
mexs _ leon : ALLAHUAKBAR ALLAHUAKBAR ALLAHUAKBAR ALLAHUAKBAR ALLAHUAKBAR ALLAHUAKBAR ALLAHUAKBAR ALLAHUAKBAR

yudhapwrtm: # SavePalestine
asepcawww : semoga aja kecaman pemerintah terhadap AS benar . ada kabar dr dubes AS katanya sebelum Donald trump mengeluarkan pernyataan tsb sebelumnya AS telah meminta dukungan dr negara mitra dan sekutunya termasuk indonesia.
indrafahrisaputraInshaa : Allah pak !anda menjaga kehormatan ummat islam!maka Allah swt akan menjaga kehormatan anda pak !inshaaAllah …
omaaudi : Aamiin YRA , … Amerika biasa AROGAN , semoga semua Negara di DUNIA INI BERSATU MELAWAN “ TRUMP ” , … . APA iya AMERIKA . mau hidup sendiri , … . MODAR DIA , KALAU MAU HIDUP SENDIRI tanpa MENGINDAHKN TATANAN DUNIA

irfan _ musthofaa : Mantap pak . . Kami bersama anda . Jerussalem , , palestina , & INDONESIA . selalu bersama , , klo Smua nya Nge Boikot Amerika , , dia juga gk Akan Bisa Apa 2 . Trump Arogann !!

kanjengtumenggung 212 : Setuju Pak Anies . Insya Allah Palestina akan bebas dan merdeka … Semoga pak anies selalu diberi keberkahan dari Allah SWT. Allahu Akbar! @ aniesbaswedan

Sumber : pasukancyber.com

Minggu, 03 Desember 2017

SENANDUNG JIHAD 212

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh

Saya menantang kepada siapapun yang masih nyinyir dan menebar hoax serta fitnah, juga yang merasa memiliki massa, memiliki harta dan kekuasaan...

Jika kalian masih ragu, datangkanlah padaku kumpulan massa yang serupa dengan ABI (Aksi Bela Islam) 411, Aksi Super Damai 212, Aksi Super Super Damai 112, dan yang terakhir AKSI TASYAKURAN REUNI ABI 212 (2 Desember 2017.

Kemudian hadirkan saksi obyektif untuk menilai dari sisi ;

Jumlahnya...
Tertibnya...
Bersihnya...
Khidmatnya...
Keajaibannya...
Penggembosannya...
Sabotasenya...
Fitnahnya...

Jika kalian tidak mampu, dan pasti tak kan mampu, maka lihatlah. Setelah melihat semuanya, lantas ;

Siapa yang makar...?
Siapa yang anti kebhinekaan...?
Siapa yang melecehkan Pancasila...?
Siapa yang merongrong NKRI...?
Siapa yang radikal...?

Ini semua tidak ada hubungannya dengan Pancasila dan NKRI, apalagi Ahok. Itu semua sudah selesai. Jangan ajari umat Islam soal Pancasila dan NKRI, kami sudah _khatam_ soal itu. Ini masalah agama dan keimanan, masalah kedaulatan dan persatuan.

Makin dihalang-halangi, makin besar semangat kami. Makin ditekan, makin kuat energi kami.

Apakah kalian ​lupa dengan Hukum Fisika (air & pegas), "Makin besar dan dalam tekanan yang diberikan makin kuat daya tolak dan perlawanan".

Buktikan dengan anak panah, makin kuat ditarik, makin kencang dan jauh meluncurnya menuju sasaran.

Kami selalu ingat kisah Ibrahim AS yg diperintah Allah SWT untuk menyeru manusia menunaikan ibadah haji. Begitulah kami, cukup dengan seruan Bela Islam, maka berduyun-duyun lah manusia dari penjuru Nusantara.

Ada yang datang melalui darat, udara, lautan, bahkan ada yang mendatangi sambil tertatih-tatih untuk memenuhi seruan ini. Tak ada gunung terlalu tinggi, tak ada lautan terlalu dalam, tak ada penghalang sanggup menahan.

Jangan remehkan umat yang santun dan bersahaja, ketika aqidahnya terganggu. Jangankan penguasa yang tiran, gunung Uhud pun akan diluluhlantakkann.

Ketika seruan jihad memanggil, kilatan pedang terlihat laksana lambaian tangan bidadari. Desingan peluru nampak seperti rintik hujan yang tak mengganggu.

Kami adalah pasukan. Tersatukan oleh satu (Allah azza wajalla), terpisahkan oleh nol (kematian). Bagi kami kematian bukan sesuatu yang menakutkan. Bagi kami kematian adalah gerbang kebahagiaan dan keabadian.

Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar...!!!

Al faqir yang dhoif
Arief Luqman El Hakiem
Alumni Aksi 411, Aksi 212

Sabtu, 02 Desember 2017

SINDIRAN UNTUK MEREKA YANG TIDAK SUKA SOAL REUNIAN 212

REUNI 212 ADA PIHAK YANG KETAKUTAN TAPI ENTAH APA YANG DI TAKUTI

Saya sempat ke lokasi REUNI 212 & MAULID NABI MUHAMMAD SAW. Walau hanya beberapa menit, saya balik dan mengikutinya lewat media sosial.

Beberapa media yang memuat berlangsungnya reunian tersebut dengan beberapa opini yang membuat saya mesti menangis karena alasan akibat reunian ada kecemasan para pengguna jalan & transportasi umum akibat macet efek dari reunian tersebut.

Opini ini saya anggap sangat berbobot hingga tak layak di baca, hihihi sang penulis opini ini berhalusinasi andai jika,  memperingati maulid nabi sehingga menyebabkan kemacetan dan jika saat ini kanjeng nabi masih hidup dia akan marah karena ulah dari memperingati hari kelahirannya akhirnya mengganggu pengguna jalan. Wouw media sebesar CNN kok mengekspos opini secerdas anak ku yang berusia 6 tahun.

Saya juga pernah berjumpah Nabi Isa Al-Masih , marah akibat macet di sekitaran lokasi yang sama tak jauh dari lokasi reunian dan maulid nabi tersebut, karena banyaknya orang yang datang beribadah dan natalan memperingati hari lahirnya, bahkan Bung Karno juga protes akibat perayaan HUT-RI sehingga beberapa akses jalan di sekitaran lokasi tersebut-pun di tutup karena adanya perayaan HUT Kemerdekaan Negara Republik Indonesia.

" Semoga sang penulis cerdas, yang membuat kami ikut angkat jempol ini bisa terus belajar lagi".

Loh Kok Reunian untuk apa, Ahok Sudah Dipenjarakan, Inikan Aksi Bela Surat Al-maidah 51 Bukan Dengan Niat Politik Kenapa Ngumpul Lagi ?

Bukankah Soekarno dan Muhammad Hatta sudah gak ada. Indonesia sudah merdeka kenapa ngumpul lagi di tanggal 17 Agustus ?

Pancasila juga sudah disahkan kok sebagai dasar konstitusi sejak 1 Juni puluhan tahun silam, begitupun sumpah pemuda, kok kenapa harus terus di peringati?

Itu Soeharto sudah lengser kok bahkan beliau sudah almarhum kenapa embel embel 1998 masih menajadi remember memory sebagian orang saat ini ?
Saya rasa pertanyaan di atas dengan kalimat di bawah ini mungkin sesinonim.

Reunian Tidak Jauh Jauh Dari Politik

Ehhhmmm tidak ada undang undang sah secara regulasi melarang umat islam berpolitik kok, tapi institusi yang bapak pimpin kan ada larangan untuk berpolitik jika bapak mempolitisir suasana itukan menabrak aturan pak. _UU Polri No 2/2002. Di dalam UU TNI No 34/2004, Pasal 39 Ayat 2_

" Harus Di perjelas Tujuan Dari Reunian Alumni 212 "

Ia pak. Kami rasa pak juga mengerti bahwa apa itu reunian kok, eh pak kok dukung kelompok maksiat itu LGBT untuk apa pak ?

"Tak Perlu Reuni Seperti Sekolah "

Perlukah kita ajari apa itu REUNI ya biar gak gagal faham ya ?
Reuni..

Reuni itu berasal dari 2  bahasa Inggris yang terdiri dari suku kata, “Re” yang artinya kembali dan “Uni” yang artinya bersatu. Jadi jika digabung maka bisa diartikan. “Kembali Bersatu” Tujuannya adalah berkumpulnya kembali dengan teman, rekan, saudara, bahkan keluarga yang mungkin sudah lama tidak bertemu.

Dari pengertian ini saya rasa
masih wajar para pejuang 212 yang berasal dari seantero jagad nusantara ini yang sudah setahun lama berpisah untuk kembali berkumpul lagi, apakah salah ?

Atau apakah salah jika bagian besar dari keluarga 212 ingin bersatu itu juga salah ?

Tolonglah pak kasihlah komentar yang mendidik pak.

HORMAT KAMI
ALUMNI 212
Sandri Rumanama
(Aktivis GMNI, Penulis & Pengamat Sosial Politik)

Kamis, 30 November 2017

Sandiwara Penyanderaan di Papua dan Transformasi dari OPM menjadi KKB

Pertengahan November lalu publik dikejutkan oleh pernyataan aparat polisi soal situasi penyanderaan di lokasi pertambangan ilegal di Tembagapura, Mimika, Papua.

Jumlah sandera mencapai seribuan, menurut klaim polisi. Yang disandera adalah warga pendatang dan tempatan. Penyandera adalah kelompok separatis Papua Merdeka. Pemberitaannya, pada saat itu, akhirnya bergantung dari pernyataan polisi dan pernyataan kelompok separatis. Sukarnya akses ke Mimika membuat peristiwa tersebut masih kelabu.

Wartawan Republika Mas Alamil Huda di Timika dan Fitriyan Zamzami berkesempatan menggali kejadian itu, sejak pekan lalu.

Berikut tulisannya.

REPUBLIKA.CO.ID, MIMIKA -- Di kaki pegunungan Jayawijaya, Papua, ada sebuah danau. Wanagon dia punya nama. Airnya dahulu jernih, bersumber dari lelehan salju di puncak gunung.

Bagi suku Amungme yang bermukim di sekitar lokasi itu, Wanagon juga semacam tempat keramat. Danau ini adalah titik berkumpulnya arwah para leluhur. Arwah-arwah tersebut nantinya membalas kebaikan alam dengan membawa kelestarian dan keberkahan bagi warga Amungme melalui aliran sungai-sungai besar, salah satunya Aijkwa.

Sungai-sungai besar itu kemudian bercabang lagi menjadi sejumlah kali. Di Distrik Tembagapura, membelah Kampung Utikini, Kampung Kimbely, dan Kampung Banti, Aijkwa bercabang menjadi Kali Kabur yang mengular sepanjang lima kilometer.

Sudah sejak lama, yang mengalir dari Wanagon bukan lagi air jernih. Ini karena limbah bekas pengayakan bebatuan di pertambangan PT Freeport Indonesia di Grasberg menimbun danau tersebut.

Wanagon kini jadi salah satu danau paling kritis di Indonesia.
Residu pertambangan yang menimbun itu kemudian ikut mengalir ke sungai-sungai di bawahnya. Termasuk ke Kali Kabur yang bentangan awalnya bermula dari Mile 37 dari pusat pertambangan di Tembagapura hingga Banti.

Masyarakat Mimika menamai wilayah Utikini-Kimbely-Banti dengan sebutan ‘Atas’. Ini berkaitan dengan kondisi geografis dua daerah tersebut. Dua kampung itu membelah bukit-bukit dan dataran tinggi. Ketika warga berpelesiran ke tengah Kota Mimika, mereka disebut sedang ‘turun ke Bawah’.

Terlepas posisi itu, Utikini-Kimbely-Banti bukan wilayah yang sepi betul, terlebih di tepian Kali Kabur. Limbah tambang dari PT Freeport yang masih mengandung sekutip emas mengundang penambang ilegal ke lokasi tersebut tak lama selepas Reformasi pada 1998.

Demam emas dari limbah tambang itu membuat warga dari luar Papua memepaki tepian sungai dan kali di Mimika, termasuk Kali Kabur. Mereka mendulang emas dari kali yang airnya kini kerap tak lebih dari satu meter. Kegiatan ilegal itu, meski berkali-kali sempat ditertibkan, akhirnya menciptakan ekosistem tersendiri.

Banyak warga pendatang tak hanya mendulang emas. Beberapa lainnya berjualan. Mereka berdagang bahan makanan dan bahan pokok lainnya guna kebutuhan pendulang.

Tempat dagangan atau kios-kios ini berdiri di sepanjang jalan di Kampung Banti dan Kimbely di tepi Kali Kabur. Berjejeran dengan tenda-tenda sederhana para pendulang.
Kegiatan mendulang tersebut juga akhirnya dicontoh warga lokal. Etty Waker (29 tahun) seorang warga Kimbely, salah satunya. Lelaki suku Amungme itu menuturkan, ia biasa mencari emas bersebelahan dengan warga pendatang dari Sulawesi dan Jawa di Kali Kabur.

Menurut dia, selama ini jarang ada perselisihan di antara mereka. “Kita ini masyarakat biasa-biasa saja. Kita ini mereka punya saudara,” kata Etty saat ditemui Republika di Mimika, pekan lalu.

Hal serupa disampaikan Obaja Lawame (30 tahun). Ketika ditanyai soal hubungan mereka dengan pendatang, ia lekas menyela. “Tidak-tidak, mereka tinggal dengan kita. Mereka kita punya saudara,” katanya di Gedung Graha Eme Neme Yauware, Mimika.

Lelaki yang juga tokoh masyarakat di Kimbely ini mengatakan, selama beberapa tahun terakhir sejak para pendatang ke kampung halamannya, kehidupan bermasyarakat di antara mereka terjalin cukup baik. Mereka saling mengisi kebutuhan satu sama lain.

Ketua Kerukunan Keluarga Jawa Bersatu (KKJB) di Mimika, Imam Pradjono, menuturkan, ada 90 warga suku Jawa yang mencari nafkah di dua kampung tersebut. Sebagian besar pendulang, beberapa lainnya berjualan.

“Kita bukan orang baru di sana, sudah cukup lama. Ada yang satu tahun, ada yang lebih dari lima tahun. Mereka ini bersahabat, keluarga kita yang pendatang dengan masyarakat putra daerah yang di Banti dan Kimbely itu keluarga, berbaur. Dengan orang Toraja dan sebagainya juga,” kata dia kepada Republika di Mimika.

Hingga kemudian terjadi insiden pada 21 Oktober 2017. Aparat kepolisian yang sedang berpatroli ditembaki saat melintas di Bukit Sanger, Kampung Utikini. Dua anggota Brimob terluka.

Penembakan kembali terjadi keesokan harinya di lokasi yang sama. Kali ini, baku tembak mengakibatkan anggota Brimob Yon B Mimika bernama Briptu Berry Permana Putra kemudian gugur. Empat anggota Brimob yang mengevakuasi Briptu Berry juga menjadi korban luka.

Pihak Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) mengklaim sebagai dalang penembakan tersebut. Bukan itu saja, mereka juga menjanjikan akan meningkatkan penyerangan di wilayah Tembagapura dengan dalih merongrong keberadaan PT Freeport serta sebagai upaya pembebasan Papua dari NKRI.

Sayap militer OPM tersebut sudah sejak lama beroperasi di pegunungan tengah Papua. Pada 2014-2015, serangan-serangan kian terkonsentrasi di wilayah pedalaman sekitar areal tambang PT Freeport. Kepolisian melansir, selain sejumlah pasukan tewas dari kedua sisi, sebanyak 32 senjata api juga dirampas kelompok bersenjata dari pihak kepolisian pada periode itu.

Komandan Operasi TPNPB-OPM III Timika, Hendrik Wanmang, menyatakan dalam pernyataan resmi, mereka telah menyepakati pada 21 Oktober 2017 untuk membalas perlakuan aparat keamanan Indonesia atas warga Papua. Wanmang jadi salah satu yang menandatangani kesepakatan itu.

Bersamaan itu pula, Imam Pradjono mengklaim, ia kerap mendapat laporan via telepon dari warga Jawa yang berada di Banti dan Kimbely bahwa mereka disatroni kelompok bersenjata. “Kemudian orang Jawa ada yang sempat kena pukul, dompet dirampas, uang diambil, HP diambil dengan tujuan agar tidak bisa komunikasi dengan dunia luar,” ujar Imam.

Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom tak menampik ada perampasan telepon genggam. Menurut dia, tentara-tentara TPNPB-OPM menyita sementara telepon genggam itu agar para pendulang emas tak menghubungi kepolisian soal keberadaan pasukan mereka.
Terlebih, mereka mendengar kabar bahwa pendulang dari luar disusupi aparat keamanan. “Kami kumpulkan semua HP dan harta sementara saja,” ujarnya kepada Republika via sambungan telepon.

Bagaimanapun, situasi terus memanas. Muncul isu adanya pemerkosaan terhadap seorang perempuan warga pendatang. Pada Sabtu (4/11) hingga Ahad (5/11), terjadi pembakaran terhadap kios-kios warga yang berada di seputaran asrama Polsek Tembagapura di Mile 68.

Tenda-tenda rumah darurat para pendulang emas di pinggiran Kali Kabur, juga dibakar. Polsek Tembagapura, sekira 500 meter dari Utikini-Kimbely-Banti ditembaki. Bendera Bintang Kejora berkibar di salah satu bukit di Banti.

Suasana mencekam di Tembagapura dan sekitar lokasi tambang. Saling buru antara aparat keamanan dan kelompok bersenjata lalu menjadikan akses utama menuju Utikini-Kimbely-Banti tertutup. Bahan makanan tidak bisa masuk. Warga tempatan tak berani keluar.

Kapolda Papua Irjen Boy Rafli Amar menyatakan, pada 11 November 2017, Utikini-Kimbely-Banti telah dikuasai kelompok bersenjata. Sekitar 1.300 warga, menurut kepolisian, disandera kelompok bersenjata yang berkekuatan sekitar 100 petempur dibekali 35 senjata api.

Namun, benarkah ada penyanderaan saat itu?

‘Mereka Kita Amankan’ Raut-raut wajah menampakkan ketegangan dan kelelahan begitu turun dari bus. Sejumlah 344 jiwa, mulai dewasa, perempuan, hingga anak-anak kala itu diangkut dengan 10 bus milik PT Freeport Indonesia dari Kampung Banti dan Kimbely.

Ratusan warga yang dievakuasi Satgas Terpadu TNI-Polri pada Jumat (17/11) itu nyaris seluruhnya pendatang. Mereka gabungan dari banyak suku, mulai Jawa, Toraja, hingga Batak dan beberapa lainnya. Hanya seorang pria dan delapan anak-anak asli Papua dalam rombongan itu.

Tak sampai sepekan di Timika, pusat Kota Mimika, mereka langsung dipulangkan ke daerah masing-masing. Kepolisian dan TNI mengklaim, ratusan warga pendatang itu dibebaskan dari penyanderaan oleh kelompok kriminal bersenjata alias KKB.
Namun, ada versi lain yang didapat Republika dari warga tempatan.

“Sandera-sandera itu tipu-tipu,” kata Soli Alom kepada Republika di Graha Eme Neme Yauware, Timika, akhir pekan lalu. Lelaki 28 tahun itu terus mengunyah buah pinang dan kapur sirih sepanjang berbicara dengan Republika .

Soli mengernyitkan dahi mengingat-ingat, warga pendatang yang sebagian berdagang bahan makanan dengan mendirikan kios-kios di tepian jalanan kampung terus menerima ancaman sejak pertengahan bulan lalu. Beberapa melaporkan ada perampasan bahan makanan, uang, hingga telepon genggam. “Mereka takut terus lari ke kita (warga lokal). Mereka juga kita punya saudara,” kata Soli.

Tak jauh dari Soli berdiri, Obaja Lawame ikut menimpali. Warga Kimbely ini menyebut, krisis di Kimbely-Banti dimulai dari kontak senjata aparat TNI-Polri dengan kelompok bersenjata sejak 8 Oktober.

Praktis sejak saat itu, menurut dia, akses utama menuju kampung di sana terblokir. Pedagang tidak bisa mendapat bahan makanan dari “bawah”, sebutan untuk Distrik Timika, dan warga terisolasi tidak bisa ke mana-mana.

Warga bertahan dengan makanan yang tersisa. Pada 22 Oktober, lelaki yang ditokohkan di Kimbely ini mendapat kabar ada anggota Brimob bernama Briptu Berry Permana Putra gugur tertembak.

Sejak saat itulah, menurut dia, keadaan kian tak aman dan semua warga pendatang diajak untuk tinggal bersama warga lokal demi alasan keamanan. “Kita kumpulkan jadi satu tempat, tapi bukan disandera. Kita kasihan mereka, makanya kita amankan di kita punya rumah sambil kita tunggu jalan buka,” ujar Obaja.

Dia mengatakan, situasi itu terus terjadi hingga beberapa pekan selanjutnya. Persediaan makanan kian menipis sehingga mereka harus bertahan berpekan-pekan dalam keterbatasan.

Obaja juga mengiyakan kelompok bersenjata merampas barang dagangan masyarakat di kios, uang, hingga emas hasil pendulangan yang belum dijual. Sebagian warga pendatang, menurut dia, tinggal di daerah yang kerap disebut Longsoran di tepi Kali Kabur. Sementara perkampungan warga tempatan agak masuk ke dataran yang lebih tinggi.

“Orang-orang ini, mereka punya tempat jualan itu, jualan itu di pinggir jalan. Jadi orang OPM naik turun itu selalu ganggu-ganggu. Mereka naik turun ada orang kios dipukul, ditodong, jadi mereka (pendatang) takut. Jadi 300 berapa orang itu kita tampung di rumah kita di dalam,” kata Obaja lebih lanjut.

Ketua majelis gereja di Kimbely, Natanbagai (35 tahun) menekankan, yang terjadi adalah warga asli di Kimbely-Banti ikut mengamankan para pendatang dari gangguan kelompok bersenjata. Selama beberapa pekan dalam situasi yang tidak kondusif, menurut dia, para pendatang bisa merasa cukup aman.

Situasi jadi pelik saat kios-kios warga yang berada di seputaran asrama Polsek di Mile 68, Tembagapura, dibakar. Beberapa kios yang sudah tak berpenghuni dibakar pada Ahad (5/11) dini hari.

“Kalau tidak bawa ini semua bahaya, (persediaan) makanan habis. Masyarakat minta turun karena ada kontak senjata dan bahan makanan habis,” ujar Natanbagai.

Kisah lain pula muncul dari sisi para pendatang. Salah satunya, Desi Rante Tampang (33). Wanita asal Toraja, Sulawesi Selatan, itu mengklaim telah berjualan kelontong di areal pendulangan emas sejak 2014. "Puji syukur kepada Tuhan karena kami sudah berada di tempat yang aman sehingga tidak lagi ketakutan dan terintimidasi," kata Desi setelah dievakuasi pada Jumat (17/11) seperti dilansir Antara .

Ia mengatakan, selama sebulan di “Atas”, kelompok bersenjata senantiasa berpatroli dari rumah ke rumah dengan membawa senjata api dan senjata tajam. Ibu tiga anak itu menuturkan, wajah para anggota kelompok bersenjata tak bisa dikenali karena dilumuri cat hitam.

"Bila malam tiba kami semua dikumpulkan di satu rumah dan bila siang kami kembali ke rumah masing- masing. Bila mereka datang, kami langsung masuk ke dalam ruangan atau kamar karena takut," kata Desi.

Versi Polda Papua, tak hanya intimidasi, warga pendatang juga mendapatkan pelecehan seksual. Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Mustofa Kamal menuturkan, warga yang mengalami pelecehan seksual oleh KKB di area Longsoran sebanyak lima perempuan atas nama EK, T, HY, D, dan L. Sementara korban kekerasan seksual di kampung Kimbely atas nama R, MM, LL, S, RK, I, dan ML.

Data warga yang dianiaya dan ditodong dengan senjata api sebanyak 19 orang. Warga yang dirampas telepon genggamnya sebanyak 74 orang dengan jumlah barang bukti 200 unit telepon.

Total uang yang dirampas kelompok bersenjata senilai Rp 107,5 juta. Jumlah paling kecil yang dirampas senilai Rp 500 ribu milik pendatang berinisial P, dan yang paling besar Rp 30 juta miik pendatang berinisial B. Sedangkan total emas yang dirampas seberat 254,4 gram. Yang paling ringan, milik YP seberat 5,4 gram, dan paling banyak milik YM seberat 100 gram.

Situasi yang lebih kompleks disampaikan Ketua Kerukunan Keluarga Jawa Bersatu (KKJB) di Mimika, Imam Pradjono. Dalam tamsil, ia mengatakan, ada sentimen tertentu juga di warga lokal Kimbely dan Banti.

Sejumlah saksi mata juga mengatakan, simpatisan Papua merdeka tak sekadar 20-an orang seperti yang diklaim kepolisian. Jumlahnya ratusan dan sebagian berbaur dengan warga lokal.

“Orang-orang yang di seberang sana, yang sehati, tapi berseberangan pandangan itu menyandera orang kita,” ujar dia kepada Republika . Menurut dia, nyaris sebulan penuh warga pendatang tak boleh bekerja. Tak boleh keluar dari perimeter yang ditetapkan kelompok bersenjata di Kimbely-Banti.

Komandan Operasi TPNPB-OPM III Timika, Hendrik Wanmang mengklaim, yang mereka lakukan hanyalah menjaga agar warga Kimbely-Banti tak masuk dalam wilayah tempur dengan TNI-Polri. Pihak TPNPB-OPM juga menyatakan, kios-kios yang disatroni juga milik mereka yang terindikasi bekerja sama dengan TNI-Polri. Menurut mereka, tak ada pemerkosaan.

Bagaimanapun, pada Jumat (17/11), pihak TNI-Polri merasa cukup. Operasi penyerbuan digelar. Operasi yang kemudian memunculkan versi berbeda pula.

Misteri Dua Jenazah di Bukit Kimbely

Pernak-pernik khas suku-suku di pegunungan Papua menggantung di leher Kamaniel Waker. Mulai dari taring babi hutan hingga tas rajut kecil menghiasi dada pria berumur 49 tahun itu. Ia ditemui Republika ketika tengah mengordinasi para pengungsi di Graha Eme Neme Yauware, Distrik Timika, Mimika, pekan lalu.

Tangannya liat dan berotot sewarna kayu jati, genggamannya keras saat bersalaman. Sorot matanya yang tajam, jenggot lebat di wajah, memunculkan kesan tegas. Namun, ketika diajak berbinjang, keramahannya muncul. Ia beberapa kali tertawa di sela-sela pembicaraan.

“Kalau mereka lapar, saya lapar. Kalau mereka mati, saya mati.” Kamaniel mengingat bagaimana ia harus terus mengulangi kata-kata itu di hadapan saudara-saudara satu sukunya yang telah menggabungkan diri dengan TPNPB-OPM.

Ada keponakannya dan sepupu di antara mereka. Ayub Waker yang disebut memimpin para petempur TPNPB-OPM di Mimika, kata Kamaniel, adalah pamannya.
Sambil pasang badan, Kamaniel mengatakan, ia harus dibunuh dulu sebelum para pendatang beretnis Jawa, Toraja, Buton, Bugis, dan Batak, yang ia lindungi di Kampung Kimbely dan Kampung Banti, Distrik Tembagapura, Mimika, dihabisi kelompok bersenjata.

“Lebih saya mati sama kamu orang, dari pada sama orang lain,” kata Kamaniel kepada kelompok bersenjata. Ia berupaya meyakinkan petempur-petempur TPNPB-OPM, para pendulang emas ilegal tersebut warga biasa. “Mereka kamu orang punya masyarakat, tentara (Indonesia) punya masyarakat.”
Baku buru antara TNI-Polri dengan kelompok bersenjata TPNPB-OPM telah membuatnya dalam posisi sulit sejak pertangahan Oktober lalu. Sebagai kepala suku umum yang melingkupi suku-suku di Mimika, ia wajib melindungi puaknya.

Kamaniel juga merasa berkewajiban melindungi warga pendatang pendulang emas di Kali Kabur yang belakangan kerap diganggu kelompok bersenjata.

Ia meyakini, perang semestinya hanya antara para petempur dari kedua sisi. Warga sipil tak boleh diganggu. Kamaniel mengklaim sempat dicap pengkhianat oleh anggota kelompok bersenjata terkait sikap itu. “Dia orang tembak saya empat kali,” kata Kamaniel kepada Republika .

Kemudian datang pagi hari itu. Pada Jumat (17/11), pukul 07.00 WIT, pasukan TNI memasuki desanya saat anggota TPNPB-OPM yang berjaga-jaga di pintu masuk menuju Utikini dan di dalam Kimbely-Banti mundur ke pos-pos mereka di bukit-bukit yang mengitari kampung.

“Mereka (TNI) kasih tahu masyarakat tidak boleh lari dan harus pasang Merah-Putih,” kata Kamaniel. Pukul 08.00 WIT, kata Kamaniel, sekitar 300 warga pendatang diminta keluar dari rumah-rumah di Kimbely. Warga lokal juga dikumpulkan di lapangan kampung.

Sementara itu, serangan dilancarkan. Kamaniel bersaksi, tentara melepaskan tembakan dengan senjata api ke arah gunung-gunung hingga sekitar pukul 09.00 WIT. “Mereka juga tembak bom pakai meriam,” kata Kamaniel.

Ketakutan, warga kampung tetap di posisi mereka hingga serangan selesai. Aparat kemudian menguasai lokasi sekitar pukul 11.00 WIT. Sebanyak 335 warga non-Papua di Kimbely-Banti beserta satu pria dan delapan anak Papua lalu dievakuasi berjalan kaki keluar kampung dan dijemput menggunakan sejumlah bus di Polsek Tembagapura.

Versi resmi dari Komando Daerah Militer (Kodam) XVII/Cendrawasih, sekira lima hari sebelum evakuasi 13 personel Kopassus dan 10 personel Kostrad sudah mengintai lokasi. Hadir juga Peleton Intai Tempur Kostrad bersama Batalyon Infanteri 754/Eme Neme Kangasi yang masing-masing berkekuatan 10 personel.

Mereka mengendap dan memantau pergerakan kelompok bersenjata yang disebut membaur dengan warga lokal. Pada Jumat (17/11) pagi, saat anggota kelompok bersenjata naik ke pos masing-masing di bukit, tentara merangsek masuk ke Kimbely dan Banti sembari menghalau kelompok bersenjata dengan tembakan-tembakan.

Sehari setelah evakuasi, aparat kemudian melakukan penyisiran. Dua jenazah di temukan di gunung-gunung yang ditembaki sehari sebelumnya. “Ada dua orang mati ditembak pakai bom,” kata seorang warga Kimbely, Soli Alom (28 tahun), kepada Republika di Timika, pekan lalu.

Pihak Kodam XVII/Cendrawasih mengklaim keduanya anggota kelompok kriminal bersenjata. "Satu orang menggunakan kaos loreng TNI celana hitam sampai lutut, pakai sepatu boot , dan ikat kepala Bintang Kejora. Yang satu lagi, celana selutut tanpa baju, sepatu boot karet, noken Bintang Kejora," tutur Kepala Penerangan Kodam XVII/Cendrawasih Letnan Kolonel Infantri M Aidi.

Sedangkan Juru Bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom berkeras, keduanya adalah warga sipil. “Kami mengklarifikasi bahwa mereka adalah warga sipil yang berada di Kimbely. Itu adalah pelanggaran HAM dan Indonesia harus bertanggungjawab,” ujar Sambom dalam pernyataan resmi, pekan lalu.

Menurut Kamaniel, kenyataannya berada di tengah-tengah. Salah satu yang tewas, seingat Kamaniel, adalah Ilame Waker. Ia berusia sekitar 20 tahun. “Dia
bapak ade (paman) punya anak,” kata Kamaniel. Menurutnya, Ilame memang petempur TPNPB-OPM. “Dia pegang senjata.”

Lain halnya dengan korban lainnya, Berina Waker yang seumuran dengan Ilame. Seperti Ilame, Berina juga sepupu Kamaniel. Ia menuturkan, Berina sedianya seorang pendulang emas yang kerap bekerja bersisian dengan para pendatang.

Saat krisis di Kimbely-Banti, Berina beberapa kali naik ke bukit-bukit menemui saudara-saudara anggota kelompok bersenjata. Saat terjadi penyerangan dan evakuasi warga oleh TNI, Berina kebetulan berada di lokasi yang jadi sasaran tembak. “Dia tidak bisa turun.”

Pihak TNI mengklaim, kedua jenazah kemudian diserahkan ke suku mereka untuk dibakar sesuai adat tempatan. Sedangkan menurut Kamaniel, bukan karena ritual jenazah mereka dibakar. “Kulit sudah terkupas semua, tulangnya kelihatan,” kata Kamaniel merujuk kondisi jenazah.

Selepas penemuan jenazah itu, perburuan kelompok bersenjata masih terus dilakukan. Suara-suara tembakan masih kerap terdengar dari Kimbely dan Banti. Tak mau ambil resiko, Kamaniel merayu sekitar 800-an warganya turun mengungsi ke Timika, pusat kota Mimika.

”Babi sama kebun kita tinggal semua,” ujarnya. Meski begitu, ada sebagian yang tak hendak turun dengan dalih menjaga ternak.
Sebagian mengungsi di Graha Eme Neme Yauware, lainnya di ke Kampung Damai di Distrik Kwamki Narama. Mereka menempati Gereja GKII wilayah II Pegunungan Tengah Papua Jemaat Anugerah.

Kamaniel mengatakan, sebagian pengungsi yang tidak memiliki keluarga di Timika akan direlokasi ke lahan di Mile 32, Distrik Kuala Kencana. Situasi di atas yang tak menentu membuat Kamaniel merasa perlu adan tempat baru untuk penghidupan yang lebih layak dan keberlanjutan pendidikan anak-anak Banti, Kimbely, dan sekitarnya.

Namun tak semua warga suku membagi keinginan itu. Belum sepekan, pengungsi sudah merindukan dataran tinggi yang lebih sejuk. “Saya su (sudah) tidak kuat panas di sini,” kata Agustina, seorang warga Kimbely kepada Republika di halaman Gedung Eme Neme Yauware pekan lalu.

Kehidupan di Kampung Kimbely, kata perempuan Amungme berusia 40 tahun itu, adalah surga meski penuh kekurangan. Dia juga memikirkan kelanjutan pendidikan empat anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar, yang juga ikut turun ke pengungsian.

Harapannya sederhana, agar kedamaian di kampungnya bisa dipulihkan kembali dengan cara sebaik-baiknya. “Tuhan kasih saya tempat ini (Kampung Kimbely). Tuhan yang kasih kau jaga saya punya gunung,” ujar dia.

Red: Fitriyan Zamzami

Jumat, 17 November 2017

SETYA NOVANTO DAN KETOLOLAN BANGSA KITA

Berbagai media, baik mainstream maupun medsos, memberitakan pemburuan Setya Novanto, ketua DPR Republik Indonesia, oleh KPK. Dari mulai KPK dan polisi yang mengejar SN ke rumahnya, sampai urusan pemburuan SN. Bahkan, sebuah LSM Anti Korupsi, MAKI, mengeluarkan sayembara hadiah 10 juta rupiah untuk informasi SN di mana berada. Dan juga LSM IPW meminta polisi menembak di tempat jika Novanto melawan polisi yang hendak menangkapnya.

Hiruk pikuk soal menghilangnya Novanto ini, didominasi caci maki dan kebencian yang amat dahsyat terhadap sosok SN, yang memang dalam perkara korupsi E-KTP ini berkali kali mampu mematahkan tuduhan KPK terhadap dirinya. Bahkan, SN sudah berkali kali pula sebelumnya menghadapi perkara perkara besar, mulai dari Cessie Bank Bali, "papa minta Saham", dan terakhir skandal E-KTP, yang merugikan negara triliunan rupiah.

Caci maki ini telah membuyarkan beberapa substansi persoalan Novanto ini dalam perspektif berbangsa. Yang jika kita tidak sensitif, maka sesungguhnya kita tidak menyentuh persoalan sesungguhnya.

Setidaknya ada 3 hal penting yang harus kita dalami dalam situasi ini. Pertama, Novanto bukanlah penjahat dalam pengertian hitam putih. Artinya, kita sulit menempatkan diri kita sebagai alat ukur yang sah untuk menilai Novanto sebagai penjahat, seperti yang kita lakukan terhadap maling, pencuri, pembunuh, pelacur dsb. Mengapa demikian? Karena Novanto dalam sistem sosial politik kita merupakan bagian dari sistem politik yang ada. Sistem politik ini adalah sebuah sistem yang memang permisif dan toleransi atas orang orang yang berkarakter seperti Novanto.

Novanto adalah tangan kanan Jokowi saat ini. Dia bekerja dalam simbiosis mutualisma dengan Jokowi, baik dalam mendukung Jokowi untuk kembali jadi presiden 2019, maupun dalam mengamankan DPR RI untuk memuluskan agenda rezim Jokowi di parlemen. Dulu Novanto adalah tangan kanan Prabowo Subianto pada pilpres 2014 lalu. Dia bekerja siang malam untuk memenangkan Prabowo jadi presiden.

Novanto adalah tangan kanan Jusuf Kalla ketika JK menjadi ketua umum Golkar beberapa tahun lalu. Novanto merupakan bendahara yang berfungsi mencari sumber sumber pembiayaan Partai dan politik JK.

Novanto adalah pendukung utama Ahok dalam pilkada DKI. Bersama Yorys Raweyai, Novanto menggalang konglomerat konglomerat berpawai "kebhinnekaan" untuk mendukung Ahok.

Dalam arus rakyat, Novanto adalah pemilik gelar GUS. Dia mendapatkan kartu anggota NU diberikan langsung oleh ketua Dewan Syuro dan ketua Tanfidziah NU, beberapa saat lalu. Bahkan dia melalukan safari politik ke pesantren pesantren.

Jadi, jejak Novanto selama 20 tahun belakangan ini, menunjukkan bahwa bangsa kita memang memproduksi elit elit nasional dengan karakter Novanto. Manusia dengan karakter minus intelektualitas, gemar korupsi, dan mempersepsikan kekuasaan sebagai alat pencari kekayaan.

Kedua, kasus Novanto yang berani melawan KPK ini sebenarnya terjadi ketika KPK sebagai institusi anti korupsi yang awalnya sangat didambakan, terjebak dalam arus politik kekuasaan. Novanto melakukan Pra Peradilan atas pentersangkaannya tentu karena ada preseden pra peradilan atas Budi Gunawan yang ditersangkakan kasus "rekening gendut" dan pentersangkaan Surya Dharma Ali.
Rakyat melihat berbagai kasus, baik di masa SBY, seperti "kasus Hambalang" maupun di masa Jokowi, kasus Sumber Waras dan "bus Transjakarta", terkesan ada pilih kasih dalam memilih tersangkanya.

Menurunnya kredibilitas KPK, tentu saja membuat Novanto dan pengikutnya di DPR berani melawan KPK secara terbuka tanpa malu dihadapan rakyat.

Ketiga, persoalan Novanto ini berimpit dengan sosoknya sebagai ketua DPR RI. DPR RI adalah simbol sistem konstitusi dan hukum di negara ini. Karena mereka memproduksi UU dan (bersama DPD) juga mengamandemen UU Dasar.

Sudah jelas bahwa Novanto menjabat DPR RI karena dukungan rezim yang berkuasa. Bahkan, sebelumnya dia ketua DPR yang sudah mundur karena dicurigai melakukan tindakan aib untuk menjual kekuasaannya dalam kasus "Papa Minta Saham" Freeport. Namun, rezim mendukung kembali Novanto mengambil alih kepemimpinan Golkar dan seklaigus DPR RI, dengan barter politik dukungan Golkar secara dini untuk Jokowi 2 periode.
Dengan posisinya sebagai ketua DPR, sekali lagi Novanto adalah simbol Rakyat Indonesia.

Dari tiga persoalan yang kita bahas di atas, muncul pertanyaan bagi kita: apakah kebencian yang muncul secara bombastis terhadap Novanto saat ini merupakan refleksi adanya keinginan rakyat untuk mendelegitimasi sistem sosial politik korup yang ada ataukah sekedar situasional dan temporer?

Pertanyaan ini penting untuk melihat tanggung jawab kita sebagai sebuah bangsa yang "civilized". Yang hari ini simbol rakyatnya dijadikan buronan dan disaksikan seluruh dunia. Jika rakyat menginginkan perubahan tentu delegitimasi atas sistem sosial yang ada harus diwujudkan dan gerakan rakyat harus menunjukkan kemarahan besar. Kemarahan besar harus merujuk pada keinginan menyingkirkan sistem sosial politik busuk yang mengkooptasi bangsa ini. Lalu juga menyingkirkan elit elit politik busuk, semuanya. Serta membangun sistem sosial dan elit politik yang ideal, seperti yang dilakukan bangsa bangsa besar.

Sebaliknya, jika yng terjadi hanya puas pada sirkulasi elit dari Novanto yang asli ke Novanto novanto lainnya, maka sesungguhnya rakyat pun sudah masuk dalam jebakan sistem sosial politik busuk yang berkepanjangan.

Saat ini adalah saat bangsa kita mengukur diri kita. Yakni mengukur Ketololan Bangsa Kita.

Oleh : Dr. Syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle.