Islam adalah jalan hidup. Menjadikan Islam sebagai landasan, dasar dan kontrol dalam berpolitik adalah wajib hukumnya. Tiada Kemuliaan Tanpa Islam, Tiada Islam Tanpa Al Qur'an...
Cari Blog Ini
Selasa, 03 April 2018
Hoax, Medsos dan Konflik Sosial
Sabtu, 31 Maret 2018
Jokowi, I don't Trust Him Anymore
Ada sebuah tulisan yang sangat menarik, ditulis oleh seorang alumni UGM. Dalam beberapa hari ini, tulisan tersebut viral di media sosial. Sayangnya, tak ada media mainstream yang memuatnya.
______________
Hanya ada beberapa media online kelas menengah yang mau menayangkan. Tentu bukan bertujuan untuk hal-hal negatif, tapi mengingatkan kepada seluruh masyarakat Indonesia, bahwa janji itu wajib hukumnya ditepati.
Jika tidak, maka hutang namanya. Lagi-lagi, hutang pun wajib dibayar. Jika tidak, urusannya dengan pengadilan Tuhan.
Apalagi, tulisan alumni Hamburg Jerman ini, berhubungan dengan janji-janji kampanye calon presiden, yang sekarang sudah 3 tahun jadi presiden. Dan, sebentar lagi akan kembali bertarung di ajang Pilpres.
Dalam tulisannya itu, Ferizal Ramli menggaris-bawahi, tidak ada satu pun janji yang dilontarkan calon presiden 2014 asal Solo itu diwujudkan. Semuanya berlalu bak angin yang membawa bau amis.
Sehingga, sangatlah pantas jika Ferizal beberapa kali menulis kalimat “I don’t trust him anymore!” (Aku tak percaya lagi padanya).
Tulisan tersebut awalnya tayang di grup FB. Kemudian beredar viral dishare oleh netizen di media sosial.
Berikut tulisannya:
Satu yang hilang dari Jokowi pada aku pribadi.
”I don’t trust him anymore!”
Aku kecewa secara nyata bahwa Jokowi bukan orang yang serius mewujudkan apa yang dikatakan. 3 hal ini aku bersaksi bahwa Jokowi tidak pernah mewujudkan janjinya. 2 diantaranya malah aku serius membantu.
1. Saat bicara Esmeka sebagai Mobnas. Aku sebagai Tim Ahli IASI (Ikatan Ahli dan Sarjana Indonesia Jerman) sampai meminta audiensi Jokowi yang saat itu Walikota Solo.
Kukoordinasikan para Tim Pakar Otomotif Jerman bahkan pihak VW sudah siap bantu, lalu melalui sahabatku Anggota DPRD Solo sampaikan dukungan riil kita.
GRATIS tanpa dibayar!
Jokowi karena dia sibuk setelah itu kampanye di DKI untuk jadi Gubernur maka lupa.
Enough is enough, I don’`t trust him anymore.
2. Saat mau memajukan Sekolah Vokasi.
Ini pengorbananku buat Program Jokowi tak terhingga. Waktu cutiku 1 bulan kubuang demi mewujudkan Program Sekolah Vokasi. Plus selama lebih 1 tahun aku fokus bantu ini secara GRATIS!
Kudesain bersama temen2 IASI dari NOL karena jujur tidak banyak orang Indonesia tahu apa itu Program Vokasi acuan dunia seperti Dual-System Jerman. Sebagai Ketua Umum IASI saat itu semua Sumber Daya serta Network yang kumiliki difokuskan untuk mewujudkan program yang visioner ini.
Ku-arrange konsepnya, kubantu Kemendikmbud! Dapat komitmen dari pemerintah Jerman akan bantu kirimkan 650 ahli Jerman secara “GRATIS” mendidikan para ahli vokasi Indonesia.
Menteri berganti, aku tetap konsisten bantu. Tapi kelak aku tahu rupanya Jokowi cuma basa-basi disini. Tidak ada komitmen serius mewujudkannya. Kita yang trust padanya berkorban jiwa raga, jebule dia cuma mau main pencitraan belaka.
Enough is enough, I don’`t trust him anymore.
3. Saat di KBRI Berlin beberapa tahun yang lalu. Jokowi dengan gagah berani bilang Gedung KBRI Berlin seperti rumah toko dan dalam waktu 3 bulan akan dibuat gedung baru. Malu punya gedung KBRI jelek.
Kita sambut dengan tepuk tangan gegap gempita luar biasa. Tapi ternyata seperti bisa lidah tak bertulang. Ternyata hampir 3 tahun berlalu itu gedung KBRI tidak terwujud juga.
Enough is enough, I don’`t trust him anymore.
Aku memutuskan mengkritisi Jokowi sebagai tanggung jawab moralku pribadi bahwa aku kecewa dengan cara dia yang belum bertanggung-jawab dengan janji-janjinya.
Ferizal Ramli
alumni UGM dan Hamburg, Jerman.
https://ferizalramli.wordpress.com
Senin, 19 Maret 2018
Balada Negeri Mukidi
Ini tentang seorang pemimpin negara. Di luar negeri. Lelaki yang dengan cepat menduduki satu jabatan ke jabatan yang lebih tinggi. Mulai dari walikota, lalu gubernur, kemudian presiden.
Hanya saja lelaki ini nampak tak paham dengan persoalan negara yang super kompleks. Bahkan untuk mengucapkan sebuah sambutan saja ia butuh pegang teks.
Di sebuah forum internasional di Amerika Serikat, pemimpin negara ini berpidato menggunakan bahasa Inggris dengan aksen tempat ia lahir. Kaku sekali. Tak masalah. Bukankah, tiap negara bahkan tiap daerah punya aksen bahasa sendiri?
Namun, bukan itu intinya. Saat sesi tanya jawab akan berlangsung --yang tentu para penanya akan menggunakan bahasa Inggris-- moderator menawarkan penerjemah untuknya. Pemimpin ini menolak. Merasa bisa berbahasa Inggris.
Oke, tanya jawab berlangsung.
Pertanyaan pertama, wartawan asing mengajukan satu soal. Presiden Luar Negeri ini angguk-angguk, seperti paham apa yang ditanyakan. Setelah soal selesai diajukan, apa yang dilakukan presiden ini benar-benar di luar dugaan. Karena bukannya menjawab sendiri, dia malah bilang,
"I want test my minister to answer your question."
Para hadirin di forum itu tertawa. Lalu terjadilah komedi internasional.
Tak lama kemudian berdirilah seorang lelaki berjas, dia-lah menteri yang dimaksud. Lantas menjawab apa yang ditanyakan wartawan tersebut.
Selesai. Presiden Luar Negeri ini tersenyum.
Wartawan lain mengajukan pertanyaan kedua untuk Sang Presiden. Sama, menggunakan bahasa Inggris. Seusai pertanyaan dilontarkan, ternyata presiden ini melakukan hal yang sama. Menyuruh menterinya yang jawab, lagi-lagi dengan kata,
"Saya ingin tes lagi, menteri saya bisa jawab atau tidak." Ia menunjuk menteri lain. Kali ini perempuan. Nampaknya dia adalah menteri luar negeri.
Berbeda dengan yang pertama, kini tak ada tawa dari peserta forum. Para wartawan asing itu terlalu pintar untuk mengerti bahwa ini bukan sekadar komedi. Namun kebodohan. Pemimpin satu ini tak punya gagasan atas problematika negerinya sendiri. Pemimpin ini menunjukkan kebodohannya di khayalak asing. Kebodohan internasional.
Hari itu, dia tak menjawab satu pun pertanyaan dari wartawan.
Ah, jangankan menjawab pertanyaan berbahasa Inggris. Bahkan untuk mengomentari sebuah film saja sudah membuat kaget seluruh anak negeri, karena... Karena meski sudut pandang kameranya pas, tapi komentar ngaco. Akhirnya mau tak mau jadi booming.
Baiklah, itu film. Anggap saja mereview sebuah film itu tidak penting. Tak ada hubungannya dengan persoalan negara. Mari kita lihat komentar beliau tentang perekonomian. Tentang sepatu.
Dan ternyata sama saja. Presiden luar negeri ini hanya lebih banyak mengucapkan kata "apa", hingga seantero negeri jadi mengenangnya sebagai Hari Bingung Sedunia.
Ada yang membela, "Tak penting bisa bicara lancar atau tidak. Yang penting itu kerjanya nyata."
Baiklah, kita lihat kerjanya. Meski kualitas perkataan berbanding lurus dengan kualitas ilmu dan bacaan seseorang. Makin banyak tahu, artinya ia makin banyak membaca. Apalagi dia adalah presiden, yang dituntut terus menambah ilmu lewat bacaan berkualitas. Karena permasalahan rakyat bukan hal biasa.
Oke, kita lihat kerjanya. Apa yang dijanjikan olehnya waktu presiden luar negeri ini kampanye, bahwa akan mempersulit tenaga kerja asing masuk dan menomorsatukan tenaga kerja dalam negeri, sudah terwujud?
Atau akan menekan impor dan mendongkrak ekspor sudah terwujud?
Atau perekonomian negeri sudah meroket?
Belum lagi ketidakmampuannya menjadi penengah konflik horizontal rakyat terutama terkait isu SARA. Mengucap kata Laa Hawla wala quwwata illa billah, malah jadi, La kola waka talah bi illah. Walau begitu dia masih percaya diri mengimami sholat, bahkan mempostingnya di medsos.
Negeri sebesar itu, dipimpin oleh orang yang tak punya gagasan sendiri dalam menahkodai sebuah negara. Ia seperti orang linglung bila bicara tanpa teks. Ia hanya menyampaikan gagasan 'sang penulis teks' dan kepentingan orang-orang di belakangnya.
Ratusan ribu, bahkan ada jutaan anak bangsa di negara itu yang jauh lebih baik, lebih kompeten, lebih teruji, lebih berilmu, lebih berprestasi, yang insyaAllah bisa membawa negara itu jauh lebih baik. Tapi kenapa dapatnya cuma pemimpin yang suka menunjukkan kebodohannya di muka umum.
Meski begitu, kabarnya presiden luar negeri ini pede menyalonkan diri lagi. Anehnya, masih banyak yang mendukungnya walau kemampuan dia tak layak untuk memimpin negeri se-luar biasa itu.
Ah, untung aku tidak berada di negara itu. Itu kan kejadian di luar negeri. Alhamdulillah.
***
Bangkalan, 18 Maret 2018
Fitrah Ilhami
Sumber: radarpribumi.com
Kamis, 08 Maret 2018
HOAXER vs DEBUNKER
HOAX (baca: hoks) adalah sebuah tipuan dan kebohongan yang menyamar sebagai kebenaran, istilah ini populer di internet dan media sosial karena peredaran hoax memang lebih mudah berkembang di internet dan media sosial.
Pembuat dan penyebar hoax disebut HOAXER.
DEBUNK (baca: dibank) adalah mengungkap hoax atau mengekspos kepalsuan atau kekejaman (sebuah mitos, gagasan, atau kepercayaan).
Orangnya disebut DEBUNKER.
Netizen Indonesia pada umumnya hanya sebatas mengenal hoax sebagai 'berita palsu/tipuan'. Banyak orang yg mencoba debunked dan mengklaim mampu menganalisis hoax. Banyak orang yang 'bisa', tapi hanya sekedar bisa. Mayoritas manusia bisa bernyanyi, tapi apakah mereka yang bisa bernyanyi layak disebut penyanyi?
Begitupun dengan orang-orang yang bisa membongkar hoax apakah layak disebut debunker ?
Jika mendefinisikan hoax hanya sebatas berita palsu, alangkah baiknya Anda mempelajari kembali definisi hoax secara luas.
Jika merunut pada perjalanan sejarah, definisi hoax tidak sempit hanya berkutat pada masalah " berita palsu". Hoax mencakup suatu perbuatan yang bertujuan untuk menipu/membohongi orang lain dengan cara memanipulasi, mengakali, ataupun menutupi fakta yang sebenarnya.
Menjadi seorang debunker butuh proses panjang untuk mengasah kemampuan, tidak hanya terfokus pada ruang sempit (selalu mengandalkan informasi dari internet dan pada kasus yang mudah).
Saat ini banyak hoaxer (pelaku, pembuat & penyebar hoax) dalam dunia politik dan kehidupan sosial. Namun juga sdh ada komunitas pegiat media yang intens membongkar, mengungkap dan melawan para hoaxer dengan cara cerdas dan ilmiah, merekalah para debunker.
Hoaxer tidak hanya sebatas berita bohong, namun perilaku para politisi yang memanipulasi data dan informasi untuk kepentingan kekuasaan juga bisa disebut hoax.
Politisi yang tiba-tiba merakyat dan mendadak alim, sok dekat dengan rakyat dan ulama padahal mereka tidak lebih dari musang berbulu domba juga terkategori hoax.
Kasus dan berita yang direkayasa untuk menutupi fakta sebenarnya atau untuk menutupi kasus yang lebih besar juga terkategori hoax.
Maka, proyek pencitraan yang dilakukan oleh penguasa atau siapapun dengan tujuan untuk mengelabuhi dan mengalihkan perhatian rakyat pada kondisi yang sebenarnya adalah hoax yang paling kejam.
Para debunker harus obyektif dan adil dalam membongkar aksi para hoaxer, baik yg dilakukan oleh penguasa maupun kelompok masyarakat atau perorangan demi terjaganya masyarakat dari tipu muslihat dan kekacauan.
Mari, lawan Hoax dan ungkap dengan cara cerdas dan ilmiah...!!!
Rajin membaca, lakukan konfirmasi, lakukan klarifikasi, tahan dan kendalikan nafsu untuk membagi sebelum yakin dan pasti.
#gerakanantihoax
#gerax
#turnbackhoax
#sehatberinternet
#cerdasbermediasosial.
Yogyakarta, 2 Maret 2018
Arief Luqman El Hakiem
(Pegiat Media dan Inisiator GERAX - Gerakan Anti Hoax)
Rabu, 07 Maret 2018
Ideologi Komunis dan Sejarah PKI (Partai Komunis Indonesia)
KETIKA PKI MENEKAN ULAMA MEMINJAM TANGAN NEGARA
Saya lahir ketika Orde Baru sedang mulai berkuasa,
yang saya tahu, saat itu PKI, anggota, keluarga dan pengikutnya,
sedang dikejar-kejar dari lubang semut sampai lubang buaya.
Tetangga saya di-pulau-Buru-kan sepuluh tahun lamanya.
Padahal di tahun 1960an, dia hanya orang-orang sederhana,
yang karena takut pada PKI lalu ikut menjadi penggembira acaranya.
Memang ada jutaan orang yang di masa Orde Baru terdholimi,
baik yang masa lalunya dengan PKI membuat mereka dipersekusi.
Atau juga orang-orang kritis lain yang dengan asal dituduh subversi.
Sejatinya, kejahatan Orde Baru tidak berarti memutihkan dosa-dosa PKI.
Karena, jauh sebelum Orde Baru mengejar-ngejar PKI,
justru PKI sudah biasa menekan dan membantai ulama di sana dan di sini,
baik secara langsung, atau meminjam tangan negara dengan keji !!!
Zaman itu PKI juga sudah menyalahgunakan dasar negara.
Para ulama yang anti komunis, dituduh Anti Pantjasila.
Partai seberang, dibubarkan meminjam tangan penguasa.
Para pemimpinnya dipenjarakan, tanpa pengadlan tentu saja,
dan para pengikutnya dimusuhi dan dikejar sampai desa-desa.
Oleh : Dr. Ing. Fahmi Ahmar (Peneliti LIPI)
Dan berikut ini adalah kesaksian tokoh ulama anti komunis di zaman itu, yang dipenjarakan sekian lama, PROF. BUYA HAMKA:
----------------------------------------------------------------------------------
Mari kita segarkan kembali ingatan kita, bahwa menegakkan kebenaran itu selalu penuh tantangan. Belum tentu yang tampak diikuti secara gegap gempita dengan segala kebesarannya adalah hal yang benar. Ulama sejati tidak boleh mundur menyuarakan kebenaran sekalipun kesesatan tampak bagai gelombang besar di hadapannya.
Pada tanggal 17 Agustus 1958, dengan suara yang gegap gempita, Presiden Soekarno telah mencela dengan sangat keras Muktamar (Konferensi) para Alim Ulama Indonesia yang berlangsung di Palembang tahun 1957. Berteriaklah Presiden bahwa konferensi itu adalah “komunis phobia” dan suatu perbuatan yang amoral.
Pidato yang berapi-api itu disambut dengan gemuruh oleh massa yang mendengarkan, terdiri dari parpol dan ormas yang menyebut dirinya revolusioner dan tidak terkena penyakit komunis phobia. Sebagaimana biasa pidato itu kemudian dijadikan sebagai bagian dari ajaran-ajaran Pemimpin Besar Revolusi, semua golongan berbondong-bondong menyatakan mendukung pidato itu tanpa reserve (tanpa syarat).
Malanglah nasib alim-ulama yang berkonferensi di Palembang itu, karena dianggap sebagai orang-orang yang kontra revolusi, bagai telah tercoreng arang. “Nasibnya telah tercoreng di dahinya”, demikian peringatan Presiden. Banyak orang yang tidak tahu apa gerangan yang dihasilkan oleh alim-ulama yang berkonferensi itu, karena disebabkan kurangnya publikasi (atau tidak ada yang berani) yang mendukung konferensi alim-ulama itu, publikasi-publikasi pembela Soekarno dan surat-surat kabar komunis telah mencacimaki alim-ulama kita.
Perlulah kiranya resolusi Muktamar Alim-Ulama ini kita siarkan kembali agar menyegarkan ingatan umat Islam dan membandingkannya dengan Keputusan Sidang MPRS ke IV yang berlangsung bulan Juli 1966 lalu.
Muktamar yang berlangsung pada tanggal 8 – 11 September 1957 di Palembang telah memutuskan bahwa :
1. Ideologi-ajaran komunisme adalah kufur hukumnya dan haram bagi umat Islam menganutnya
2. Bagi orang yang menganut ideologi-ajaran komunisme dengan keyakinan dan kesadaran, kafirlah dia dan tidak sah menikah dan menikahkan orang Islam, tiada pusaka mempusakai dan haram jenazahnya diselenggarakan (tata-cara pengurusan) secara Islam.
3. Bagi orang yang memasuki organisasi atau partai-partai berideologi komunisme, PKI, SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakyat dan lain-lain tiada dengan keyakinan dan kesadaran, sesatlah dia dan wajib bagi umat Islam menyeru mereka meninggalkan organisasi dan partai tersebut.
Demikian bunyi resolusi yang diputuskan oleh Muktamar Alim-Ulama Seluruh Indonesia di Palembang itu. Resolusi yang ditandatangani oleh Ketua K.H. M. Isa Anshary dan Sekretaris Ghazali Hassan. Karena resolusi yang demikian
itulah para ulama kita yang bermuktamar itu dikatakan oleh Presidennya sebagai amoral (tidak bermoral/kurangajar).
Akibat dari keputusan Muktamar tersebut, alim-ulama kita yang sejati langsung dituduh sebagai orang-orang tidak bermoral, komunis phobia, musuh revolusi dan sebagainya. Maka K.H. M. Isa Anshary sebagai ketua yang menandatangani resolusi itu pada tahun 1962 dipenjarakan tanpa proses pengadilan selama kurang lebih 4 tahun. Dan banyak lagi alim-ulama yang terpaksa menderita dibalik jeruji besi karena dianggap kontra revolusi.
Terbengkalai nasib keluarga, habis segala harta-benda bahkan banyak di antara mereka memiliki anak yang masih kecil-kecil. Semua itu tidak menjadi pikiran Soekarno. Di samping itu, ada “ulama” lain yang karena berbagai sebab memilih tunduk tanpa reserve pada Soekarno dengan ajaran-ajaran yang penuh maksiat itu, bermesra-mesra dengan komunis di bawah panji Nasakom.
Bertahun lamanya masa kemesraan dengan komunis itu berlangsung di negara kita, dalam indoktrinasi, pidato-pidato Nasakom dipuji-puji sebagai ajaran paling tinggi di dunia. Dan ulama yang dipandang kontra revolusi yag telah memutuskan komunis sebagai paham kafir yang harus diperangi, dihina dan setiap pidato dan dalam setiap tulisan. Meskipun sang ulama sudah meringkuk dalam tahanan, namun namanya tetap terus dicela sebagai orang paling jahat karena anti Soekarno dan anti komunis.
Nasehat dan fatwa ulama yang didasarkan kepada ajaran-ajaran Al Qur’an, dikalahkan dengan ajaran-ajaran Soekarno melalui kekerasan ala komunis.
Rupanya Allah hendak memberi dulu cobaan bagi rakyat Indonesia. Kejahatan komunis akhirnya terbukti dengan Gestapu-nya. Allah mencoba dulu rakyat Indonesia sebelum Dia membuktikan kebenaran apa yang dikatakan oleh alim-ulama itu hampir sepuluh tahun lalu.
Sidang MPRS ke IV pun telah mengambil keputusan mengenai komunis dan ajaran-ajarannya sebagai berikut :
“Setiap kegiatan di Indonesia untuk menyebarkan atau mengembangkan paham atau ajaran Komunisme/Marxisme/Leninisme dalam segala bentuk dan manifestasinya, dan penggunaan segala macam aparatur serta media bagi penyebaran atau pengembangan paham atau ajaran tersebut adalah DILARANG”.
Dengan keputusan MPRS tersebut, apa yang mau dikata tentang alim-ulama kita yang dulu dikatakan amoral oleh Soekarno? Insya Allah para alim-ulama kita dapat melupakan semua penghinaan dan penderitaan yang dilemparkan kepada mereka. Dan sebagai ulama mereka tidak akan pernah bimbang walau perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan itu pasti akan beroleh ujian yang berat dari Tuhan.
Watak ulama adalah sabar dalam penderitaan dan bersyukur dalam kemenangan.
Ulama yang berani itu telah menyadarkan dirinya sendiri bahwa mereka itu adalah ahli waris para nabi.
Nabi-nabi banyak yang dibuang dari negeri kelahirannya atau seperti yang dialami Nabi Ibrahim a.s. yang dipanggan dalam api unggun yang besar bernyala-nyala, seperti Nabi Zakariya a.s. yang gugur karena digergaji dan lain-lain nabi utusan Allah.
Hargailah putusan Muktamar Alim-Ulama di Palembang itu, karena akhirnya kita semua telah membenarkannya. Bersyukurlah kita kepada Tuhan bahwa pelajaran ini dapat kita petik bukan dari menggali perbendaharaan ulama-ulama lama tapi hanya dalam sejarah 10 tahun yang lalu.
(Disarikan dari Kumpulan Rubrik Dari Hati ke Hati, Majalah Panji Mas dari 1967 – 1981, terbitan Pustaka Panji Mas hal 319)
Sabtu, 03 Maret 2018
Raja Kejam dengan Pasukan Anjing Buas-nya
Alkisah ada seorang raja yang sangat kejam yang memimpin kerajaannya dengan sangat brutal. Di memiliki kesatuan algojo yang sangat sadis terdiri dari segerombolan anjing buas yang siap mencabik-cabik siapapun yang memusuhi sang raja.
Penampilan raja ini sangat kontras dengan sifat aslinya, dia kelihatan sangat merakyat, culun, lucu dan wajahnya seperti orang ediot. Tapi siapa menduga, dibalik itu dia adalah pribadi yang sangat otoriter, kejam dan sadis.
Suatu hari ada seorang rakyat yang ditangkap karena ketahuan menghina sang raja. Hukumannya jelas, dia akan dimasukkan ke dalam kandang anjing algojo biar digigit dan dicabik-cabik hingga mati dengan tersiksa.
Sebelum dieksekusi, si rakyat ini memohon satu permintaan kepada sang raja, "Paduka raja, kenapa engkau begitu kejam dan tidak berperikemanusiaan. Selama 40 tahun hidup saya mengabdi kepada engkau tanpa kesalahan. Hanya karena saya mengkritik kebijakan Anda, engkau hukum saya seperti ini, dan lupakan 40 tahun pengabdian saya".
"Baiklah, saya tidak akan gentar. Saya hanya mohon beri waktu 40 hari, setelah itu engkau boleh hukum mati saya" lanjut si rakyat dengan mantap.
Permintaan si rakyat dikabulkan. Dia diberi waktu 40 hari sebelum menjadi santapan anjing algojo kerajaan.
Apa yang dilakukan di rakyat selama 40 hari itu ?
Tanpa sepengetahuan sang raja, ternyata si rakyat ini mendatangi kandang anjing algojo dan meminta kepada para pengasuhnya untuk ikut merawat anjing-anjing algojo tersebut.
Permintaan dikabulkan, akhirnya si rakyat ini tinggal dan hidup bersama anjing2 buas sang raja. Si rakyat mulai berkenalan dg anjing2 yang sangat besar dan mengerikan. Dia ikut merawat, memberi makan, membersihkan kandang hingga memandikan anjing2 tersebut. Termasuk juga mengobati dan bercanda bersama anjing2 itu.
Jadilah mereka akrab seperti keluarga. Tiba waktunya hari hukuman. Si rakyat ini dibawa ke kandang anjing algojo utk menjadi santapan. Raja dan keluarganya berserta rakyat berkumpul untuk menyaksikan hukuman kejam tersebut.
Namun alangkah terkejutnya sang raja dan para penonton ketika menyaksikan yang terjadi, si rakyat bukan ya digigit dan dicabik-cabik oleh segerombolan anjing algojo, tapi mereka malah saling berpelukan dan bermain bersama.
Dengan nada heran, sang raja bertanya, "Kenapa anjing2 ku yang terkenal kejam dan sadis tidak mencabik-cabik mu. Apa yang kau lakukan pada mereka ?
"Paduka raja, selama 40 hari ini saya mengabdi kepada anjing2 mu, saya rawat mereka, kasih makan, memandikan, mengobati jika sakit, tidur dan hidup bersama mereka" jawab si rakyat.
"Anjing2mu membalas 40 hari pengabdian ku dengan menjadi temanku, menyelamatkan nyawaku. Mereka sangat tahu terimakasih dan balas budi" lanjut si rakyat.
"Engkau tidak lebih bijaksana dari anjing2 mu ini paduka, hanya karena saya mengkritik mu, engkau lupakan 40 tahun pengabdian ku. Tapi, hanya 40 hari aku mengabdi kepada anjing2mu, mereka sayangi aku seperti keluarganya" pungkas si rakyat.
Sang raja berwajah ediot namun kejam tersebut tidak berani berkomentar apapun, hanya rakyat yang berkomentar sambil berbisik-bisik... 😂😊
Selamat datang Tahun Anjing 2018, kawan...
Ditulis oleh Arief Luqman El Hakiem - Pegiat Media dan Pengamat Kebijakan Publik -


