Cari Blog Ini

Senin, 13 Agustus 2018

PRABOWO, GOLKAR DAN PILPRES 2019



(Pelajaran Penuh Hikmah dari Penaklukan Benteng Khaibar)

Penaklukan Benteng Khaibar (Perang Khaibar) oleh tentara Islam pada bulan Muharam tahun ke 7 Hijriah adalah satu momen penting dalam perjalanan dakwah Baginda Nabi Muhammad SAW dan para sahabat. Sebuah perang hebat yang mengandung pelajaran dan hikmah luar biasa bagi umat yang datang kemudian. Pertempuran ini disebut oleh para imam hadits, seperti Bukhari, Muslim dan Abu Dawud, diceritakan secara lengkap di dalam Tarikh Thabari, Tarikh Muhammad, bahkan di wikipedia.

Pertempuran Khaibar adalah pertempuran yang terjadi antara umat Islam yang dipimpin Muhammad dengan umat Yahudi yang hidup di oasis Khaibar, sekitar 150 km dari Madinah, Arab Saudi. William Montgomery Watt menganggap penyebab pertempuran ini adalah Yahudi Bani Nadhir yang menimbulkan permusuhan melawan umat Islam. Pertempuran ini berakhir dengan kemenangan umat Islam, dan Muhammad berhasil memperoleh harta, senjata, dan dukungan kabilah setempat. Rasulullah SAW memimpin sendiri ekspedisi militer menuju Khaibar, daerah sejauh tiga hari perjalanan dari Madinah.

Dalam Ensiklopedia Al Qur'an disebutkan, Khaibar adalah daerah subur yang menjadi benteng utama Yahudi di jazirah Arab. Airnya juga sangat melimpah. Tak heran bila Khaibar menjadi kawasan penghasil buah-buah dan kurma yang sangat melimpah. Karena itu, Khaibar sering disebut sebagai negeri Hijaz yang subur atau negeri Hijaz yang kuat.

Syauqi Abu Khalil menyebutkan, benteng-benteng yang ada di Khaibar ini sangat banyak dan terbagi di tiga wilayah utama, yakni Nathat, Syaqq, dan Katibah. Di Nathat ada benteng Na'im, Ash-Shuhaib, dan Qillah. Di Syaqq ada dua, yakni Ubay dan al-Bari. Sedangkan, di Katibah ada tiga, yakni Al-Qamush, Al-Wathih, dan As-Sulaim.

Dengan sejumlah benteng pertahanan berlapis ini, tentu saja diperlukan strategi yang matang. Rasul memerintahkan untuk menyerang benteng yang lebih mudah dirobohkan terlebih dahulu, sebagaimana disarankan oleh sahabat Habbab bin Mundzir. Dan, benteng yang pertama kali berhasil direbut itu adalah benteng Na'im yang menjadi gudang penyimpanan makanan.

Fakta Khaibar dan Strategi Jitu

Ada beberapa fakta dan strategi jitu yang diterapkan Muhammad SAW sehingga meraih kemenangan gemilang dalam Perang Khaibar. Ini menjadi pelajaran penuh hikmah dalam kaitannya dengan perang politik pada gelaran Pilpres 2019.

1. Perjanjian Hudaibiyah

Perjanjian Hudaibiyah adalah kesepakatan damai antara kaum muslim dengan kaum kafir Quraisy, dimana kedua pihak tidak akan saling menyerang dan membantu kelompok lain yang sedang berperang dengan kaum muslim atau kaum Quraisy. Dengan perjanjian ini, Muhammad SAW tidak terancam dan bisa lebih fokus pada penakluk Yahudi Khaibar.

Pada gelaran Pilpres 2019 menurut saya perlu dibangun kesepakatan dengan dengan pihak ketiga seperti Amerika, Eropa dan Tiongkok untuk bersikap netral dan tidak membantu salah satu pasangan capres. Sehingga presiden terpilih nantinya benar-benar pilihan rakyat tanpa kecurangan dan campur tangan asing.

2. Janji Kesetiaan

Demi menjamin soliditas dan loyalitas, Rasul Muhammad SAW berjanji saling setia dengan para sahabat untuk melawan setiap kemungkaran apa pun risikonya demi tegaknya syariat Islam. Rasul SAW memohon kepada Allah agar menyelamatkan dan membantu perjuangan kaum Muslim. Ikatan janji setiap itu dilakukan di bawah pohon di dekat wilayah Khaibar di dekat benteng yang ada di Nathat, tepatnya di benteng Na'im.

“Sungguh, Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon. Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat, dan harta rampasan perang yang banyak yang akan mereka peroleh. Dan Allah Mahaperkasa Mahabijaksana”.

Saya kira perlu kiranya kubu Prabowo saling berjanji setia untuk berjuang bersama, saling mendukung, saling membantu, tidak akan mengkhianati dan menyakiti. Faktor utama kekalahan dalam pertempuran adalah adanya pengkhianatan.

3. Memilih Prajurit Terbaik

Khaibar adalah gugusan delapan benteng tangguh sebagai pertahanan terakhir kelompok Yahudi di Jazirah Arab. Kekuatan pasukan tentara Romawi pun diragukan mampu menaklukkan benteng tersebut. Ketangguhan benteng Khaibar didukung dengan 10.000 personil prajurit terlatih.

Untuk menghadapi 10.000 tentara Yahudi, Muhammad SAW hanya membawa 1.600 tentara pilihan yang ikhlas dan militan. Sabdanya, "Janganlah kalian keluar besertaku, melainkan karena berjihad, adapun rampasan perang, maka aku tidak akan memberikan sedikitpun kepada kalian".

Pengumuman ini maksudnya ialah bahwa orang-orang yang tidak suka berjihad, tidak usah ikut berangkat ke Khaibar, karena harta rampasan perang yang akan diperolehnya tidak akan diberikan oleh beliau sedikitpun kepada mereka. Nabi SAW bersabda demikian itu dimaksudkan untuk menangkal orang-orang Arab dan orang-orang munafiq yang ingin ikut menjadi tentara muslimin bukan karena ingin membela agama Allah, tetapi ingin memperoleh bagian dari harta rampasan perang saja.

Dalam kaitannya dengan Pilpres 2019 memberi pelajaran bahwa banyaknya parpol yang mendukung bukan jaminan untuk meraih kemenangan. Kubu Prabowo memang kehilangan Partai Golkar dan ppp yang pada Pilpres 2014 mendukungnya. Sejak era reformasi 1998 Golkar tidak pernah  mampu mengantar jagoannya memenangkan Pilpres.

Nampaknya Golkar adalah "kutukan" untuk kontestan pemilihan presiden. Pilpres 2004 pasangan yang diusung Golkar Wiranto - Shalahuddin Wahid kalah dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono - Jusuf Kalla. Pilpres 2009 jagoan Golkar, Jusuf Kalla - Wiranto, kembali dipecundangi SBY yang berpasangan dengan Budiono. Pilpres 2014 pasangan yang didukung Golkar, Prabowo-Hatta juga kandas oleh pasangan Jokowi-JK.

Dalam sejarah Pilpres secara langsung di Indonesia, siapapun pasangan yang didukung Partai Golkar selalu mengalami kekalahan tragis. Dengan keluarnya Golkar, PPP dan beberapa kelompok oportunis kutu loncat politik yang berjuang demi rampasan perang (harta dan jabatan) dari kubu Prabowo, maka tinggallah orang-orang ikhlas dan militan di dalamnya.

4. Memilih Panglima Perang Terbaik

Bahkan dua panglima perang kaum muslim sebelumnya, yakni Abu Bakar As Shiddiq dan Umar bin Khattab, belum berhasil menaklukkan benteng tersebut. Ketika kaum Muslim mulai terasa lelah, Rasûlullâh SAW memberi semangat dengan memberitahukan bahwa besok akan menyerahkan bendera komando kepada oang yang dicintai oleh Allâh SWT dan Rasul-Nya dan dia akan mendatangkan kemenangan.

Sebagai pemimpin tertinggi, Muhammad SAW memohon petunjuk kepada Allah SWT menentukan panglima perang yang akan memimpin pertempuran esok hari. Usai melaksanakan shalat Shubuh, Muhammad SAW memberikan panji perang kepada Ali bin Abi Thalib RA yang saat itu sedang sakit mata, namun segera diobati oleh Rasulullah SAW. Di bawah kepemimpinan panglima perang muda, saat itu umur Ali belum genap 30 tahun, namun keikhlasan dan kebersihan jiwanya mengantarkan kaum muslim pada kemenangan gemilang di Khaibar.

Pelajaran penting untuk Pilpres 2019, sebaiknya kubu Prabowo dipimpin dan diisi oleh para pemuda yang ikhlas dan bersih. Alhamdulillah di dalam pasukan koalisi Prabowo ada pemuda-pemuda tangguh seperti Sandiaga Shalahddin Uno, Agus Harimurti Yudhoyono, Hanafi Rais dan Mardani Ali Sera.

5. Strategi Jitu

Muhammad SAW bukan hanya seorang nabi yang ma'shum, beliau juga seorang ahli strategi perang yang hebat. Dengan kekuatan 1.600 tentara, Muhammad SAW harus menaklukkan 10.000 prajurit Yahudi terlatih. Yahudi Khaibar mengadakan koalisi dengan kabilah-kabilah Ghathafan. Karena itu, strategi Rasulullah SAW difokuskan pada pemutusan bantuan dari Ghathafan ke Khaibar. Untuk melaksanakan strategi ini, Rasulullah SAW mengerahkan pasukannya dalam dua kelompok.

Ketika Ghathafan mendengar informasi tersebut, ia menyiapkan dan mengerahkan pasukannya ke Khaibar. Muhammad SAW mengetahui gerakan pasukan Ghathafan ini, karena itu beliau segera mengirim pasukan yang bertugas untuk menyerang rumah-rumah mereka. Ketika pasukan Ghathafan mengetahui hal ini, mereka segera kembali ke tempat semula untuk menyelamatkan keluarga dan harta bendanya, dan tentunya meninggalkan Khaibar untuk menentukan nasibnya sendiri. Pasukan umat Islam dapat menaklukan benteng-benteng Khaibar satu demi satu sehingga beberapa benteng pun dapat dikusai.

Untuk menaklukkan benteng Qal’ah az-Zubeir, kaum muslim mengepung benteng tersebut dan memutus saluran air yang memasok kebutuhan mereka. Kondisi ini memaksa mereka untuk turun ke medan dan berperang. Dalam waktu tiga hari, benteng ini pun berhasil dikuasai. Dengan takluknya benteng ini, maka berakhirlah kekuasan Yahudi di daerah Natthah yang selalu berada dibaris terdepan dalam memusuhi kaum Muslimin.

Perang ini memberikan dua pelajaran penting kepada kita yaitu memecah belah musuh dan menghabisi mereka satu demi satu itu sangat dibutuhkan. Kalaulah Rasulullah SAW tidak membatasi gerakan kaum Quraisy tentulah umat Islam tidak mampu berkosentrasi melawan orang-orang Yahudi. Kemudian jika beliau tidak menyibukkan Ghatafan dengan urusannya sendiri, tentunlah beliau akan berhadapan dengan musuh yang jauh lebih kuat dalam benteng-benteng yang kokoh dan sulit ditembus.

Pada Pilpres 2019, kubu Prabowo harus menerapkan strategi dari Rasulullah saw dengan memecah konsentrasi koalisi Jokowi  agar sibuk dengan urusan internal partai masing-masing, dan memutus bantuan logistik dari luar yang akan membantu. Juga mematahkan pasukan medsos (buzzer) yang terus menerus membangun opini.

Itulah fakta dan strategi jitu yang diterapkan Rasulullah SAW dalam menaklukkan benteng tangguh Yahudi Khaibar. Fakta dan strategi tersebut sangat relevan diterapkan oleh kubu pasangan Prabowo Subianto - Sandiaga Shalahuddin Uno untuk meraih kemenangan pada Pilpres 2019.

“Ya Allah Yang memelihara langit dan sesuatu yang di bawahnya, Yang memelihara bumi dan sesuatu yang di atasnya, Yang menguasai syaithan dan sesuatu yang ia sesatkan, dan Yang menguasai angin dan sesuatu yang ditiupkannya. Kami mohon kepada Engkau kebaikan wilayah ini, kebaikan penghuninya, dan kebaikan apa yang ada di dalamnya. Dan kami berlindung kepada Engkau dari kejahatannya, dari kejahatan penghuninya dan dari kejahatan apa yang ada di dalamnya. Kemudian Nabi SAW bersabda, “Majulah kamu dengan nama Allah”.

Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar !!!

Salam Indonesia Raya 

Arief Luqman El Hakiem